Negara Timur Tengah Turut Kecam Terorisme

Negara Timur Tengah Turut Kecam Terorisme – Sebagian besar rakyat Arab Saudi adalah orang beragama muslim. Kementrian Arab Saudi mengeluarkan beberapa pernyataan tentang solidaritas dengan rakyat

Prancis dijadwalkan menggelar aksi untuk mengenang Samuel Paty (47 tahun). Sedangkan aksi nasional akan digelar pada Rabu (21/10). Paty dibunuh, Jumat (16/10), saat ia dalam perjalan dari sekolah rumahnya di Conflans-Sainte-Honorine, pinggiran Paris.

Penyerangnya adalah Abdullakh Anzorov (18 tahun) ditembak hingga tewas oleh polisi. Sang pelaku adalah keturunan Chechnya yang lahir di Moskow, Rusia.

Negara Timur Tengah Turut Kecam Terorisme

Anzorov telah tinggal di Prancis sejak usia enam tahun, saat ia dan keluarganya mendapat status pencari suaka. Ia sendiri bahkan tahun ini mendapat status izin tinggal di Prancis.

Laman Arab News menyatakan, Kemenlu Saudi juga mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban, Pemerintah Prancis, dan rakyat Prancis. Saudi mengatakan mereka menolak semua bentuk kekerasan, ekstremisme, dan terorisme.

Saudi juga mengulangi seruannya untuk menghormati simbol-simbol keagamaan. Saudi meminta semua pihak untuk menahan diri agar tidak memercik kebencian dengan menghina agama mana pun.

Ketua Liga Muslim Dunia Sheikh Mohammed bin Abdul Karim Al-Issa mengatakan, seluruh agama menilai tindakan kekerasan dan terorisme adalah kejahatan. Ia menekankan pentingnya upaya untuk memerangi terorisme dan mencabut akarnya, termasuk memberantasi ideologi ekstremis yang mendukung kejahatan semacam itu.

Al-Issa juga mendesak agar para pemimpin Prancis menentang semua bentuk teror. Prancis, katanya, melanjutkan upaya mereka memberantas apa pun yang bisa merusak keamanan dan stabilitas.

Di pusat ilmu Al-Azhar, di Kairo, Mesir mengecam kejahatan sadis yang terjadi di Prancis dan semua bentuk teror lain. Al-Azhar menyatakan, “Pembunuhan adalah kejahatan yang tidak bisa dibenarkan dengan dalih apa pun. Al-Azhar juga menggarisbawahi seruannya yang terus-menerus untuk mengecam ujaran kebencian dan kekerasan dan membela pentingnya untuk menghormati kesucian dan sosok keagamaan, menahan diri agar tidak memantik kebencian melalui penghinaan terhadap agama.”

Baca Juga ;Rukun Iman Sebagai Umat Muslim

Insiden Kebencian

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi berkata kerajaan mereka dengan tegas menolak serangan di gereja.

Kemelu Mesir turut mengeluarkan pernyataan bahwa Mesir berdiri bersama pemerintah dan rakyat Prancis. Serangan terorisme itu dinilai Mesir sebagai “insiden kebencian.”

Qatar mengecam tindakan kekerasan, terutama yang terjadi di rumah ibadah. Qatar pun menolak tindakan kekerasan dan terorisme.

Perdana Menteri Terpilih Lebanon, Saad Hariri, juga meminta umat Muslim untuk menolak tindakan terorisme di Prancis.

“(Tindakan ini) tak ada hubungannya dengan Islam and Rasulullah,” ujarnya.

Apa Kata Donald Trump?

Calon presiden petahana dari Partai Republik AS, Donald Trump juga menyampaikan dukungannya terhadap Prancis melalui Twitter.

Selain itu, Donald Trump menyebut insiden itu sebagai ‘serangan teroris Islam radikal’.

“Hati kami bersama orang-orang Prancis. Amerika berdiri bersama sekutu tertua kita dalam pertempuran ini,” ujar Trump via Twitter.

“Serangan teroris Islam Radikal ini harus segera dihentikan. Tidak ada negara, Prancis, atau yang lainnya yang dapat bertahan lama dengan itu!,” sebut Trump.