muslim uighur ada di kota mana

Akademisi Muslim Uighur Di China Hilang Akademisi Muslim Uighur Di China Hilang

alagagrh.net Akademisi Uighur Tyip menghilang pada 2017 dan diduga dia telah dijatuhi hukuman mati dan akan segera dieksekusi.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Akademisi Muslim Uighur Di China Hilang. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Akademisi Muslim Uighur Di China Hilang

Kementerian Luar Negeri China mengatakan kasus hukum Tiyip masih terus berlanjut dan “haknya dilindungi berdasarkan hukum.”PBB menyerukan agar Beijing mengumumkan keberadaan Tiyip dan mengizinkan keluarga untuk mengunjunginya.Organisasi Hak Asasi Manusia, Amnesty International mengatakan September lalu bahwa Tiyip secara diam-diam telah disidangkan secara tidak adil dan khawatir dia akan segera dieksekusi.Tiyip, seorang pakar geografi dan mantan rektor Universitas Xinjiang, adalah salah satu dari banyak intelektual Uighur yang dikhawatirkan organisasi HAM menghadapi persekusi di China.China dituduh menahan sekitar satu juta muslim Uighur di kamp deradikalisasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan dalam keterangan Jumat (27/12), Tiyip “dicurigai melakukan korupsi dan penyuapan.Amnesty Internasional mengatakan Tiyip didakwa melakukan “separatisme” setelah “menghilang” pada 2017. Tidak ada informasi tentang tempat penahanannya.Sejumlah pelapor khusus PBB mengatakan Kamis (26/12) dalam artikel yang diterbitkan PBB bahwa mereka khawatir karena ketidakjelasan pengadilan dan dakwaan yang dihadapi Tiyip.

Para pelapor PBB mengatakan mereka telah meminta Beijing mengklarifikasi lokasi Tiyip dan meminta agar keluarganya diizinkan untuk menemuinya.China menghadapi kecaman internasional karena menahan sekitar satu juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim lain di satu kamp di barat daya Xinjiang.Pada mulanya Beijing menyanggah adanya kamp di Xinjiang namun kemudian mengatakan kamp itu adalah tempat pelatihan yang perlu dilakukan untuk menangani terorisme.

Para pakar PBB mengatakan “tempat penahanan tak jelas, penghilangan paksa dan persidangan rahasia tak bisa dijalankan di satu negara yang memiliki hukum.”Namun juru bicara Kemenlu China, Geng Shuang, membalas Jumat (27/12) dengan mendesak PBB untuk “menghindari campur tangan masalah dalam negeri negara-negara dan menghindari campur tangan kedaulatan hukum.”Tiyip adalah satu dari sekian banyak ilmuwan Uighur yang hilang dan dikhawatirkan para pegiat HAM menghadapi persekusi dari pemerintah China.Pada bulan Oktober lalu, Parleman Eropa memberikan penghargaan HAM untuk mantan profesor ekonomi Ilham Tohti.Putri Tohti, Jewher Ilham – yang mewakili ayahnya menerima penghargaan Desember ini- mengatakan ia tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau tidak.Akademisi lain yang hilang adalah pakar antropologi Rahile Dawut, juga dari Universitas Xinjiang.Seperti halnya Tiyip, dia banyak dipuji pemerintah China sebagai model akademisi. Namun sejak akhir 2017, tak jelas di mana keberadaan Rahile Dawut.

Tiyip hilang saat dia masih menjabat sebagai rektor Universitas Xinjiang, perguruan tinggi yang berada di bawah naungan negara.Dia dikenal luas di kalangan pakar geografi dan mendapatkan penghargaan dari universitas kenamaan di Paris, Ecole Pratique des Hautes Etude (EPHE).

Tahun 2017 ia menghilang dan tak ada komentar apapun dari para pejabat.Teman-temannya yakin dia dijatuhi hukuman mati setelah diadili dengan dakwaan separatisme secara diam-diam.”Ada ratusan akademisi Uighur dan kalangan profesional yang diciduk,” kata Michael Caster, peneliti dan penulis buku The People’s Republic of the Disappeared (Republik Rakyat yang menghilang), kepada BBC.

Baca Juga :Muskim Kazakh Di Tahan Di Xinjiang

“Targetnya adalah para pemimpin komunitas, budaya dan intelektual dan ini adalah genosida budaya.”Tiyip belajar geografi di provinsi asalnya dan sempat melanjutkan studi di Jepang sebelum kembali untuk mengajar di almamaternya.Teman-temannya mengatakan pada tahun 2017, Tiyip dalam perjalanan ke Eropa untuk menghadiri konperensi dan meluncurkan kerjasama dengan universitas Jerman.

Namun di bandara dia dicegah dan diminta untuk kembali ke ibu kota Xinjiang, Urumqi.Berita tentang Tiyip berakhir di situ, kata teman Tiyip kepada BBC.Ia tak kunjung pulang dan teman-teman serta keluarganya diperiksa dengan pertanyaan seputar korupsi.Teman Tiyip mengatakan keluarganya mendengar kabar bahwa ia telah dihukum mati terkait separatisme namun China tidak pernah memastikan hal ini.

Teman Tiyip – seorang Uighur dari Xinjiang dan bekerja sebagai peneliti di Amerika Serikat – tidak mau disebutkan namanya karena khawatir atas kemanan ekan dan sanak saudara di provinsi dengan penduduk mayoritas Muslim itu.Rekan-rekan Tiyip juga mengatakan mengontak keluarga di Xinjiang sulit dan hanya memungkinkan dengan penggunan kode untuk mencegah dilacak pemerintah yang memonitor komunikasi.Sejumlah laporan menyebutkan, ada orang yang ditahan karena memiliki aplikasi WhatsApp di telepon seluler mereka.”Saat kami berbicara dengan mereka, kami tak bisa menyebut nama,” kata rekan Tiyip.

“Misalnya kami menggunakan kata bagaimana pasiennya dan apakah para dokter sudah keluar dengan diagonsa atau apapun dia sudah keluar dari rumah sakit.””Itulah satu-satunya cara sehingga sanak saudara bisa mengatakan apapun kepada kami,” tambahnya.Keluarga Tiyip sendiri mengatakan yakin dia masih hidup.Mereka mengatakan mereka mendengar bahwa Tiyip dan akademisi yang dihukum atas dakwaan separatisme dipakai sebagai contoh untuk menakuti orang di kamp tahanan.

Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

Australian Strategic Policy Institute (ASPI) mengatakan hal ini merupakan fase baru dalam program re-edukasi terhadap Muslim Uighur.China menahan sekitar satu juga Muslim Uighur di kamp tahanan, menghukum serta mengindoktrinasi mereka.Secara resmi, kamp-kamp ini disebutkan punya tujuan untuk melawan ekstremisme.Laporan ASPI diterbitkan sesudah pejabat senior China menyatakan kepada wartawan bulan Desember tahun lalu bahwa anggota kelompok minoritas dalam kamp telah “lulus”.

Apa kata laporan itu?
ASPI memperkirakan antara 2017 dan 2019 ada lebih dari 80.000 etnik Uighur dipindahkan dari wilayah otonomi Xinjiang untuk bekerja di pabrik-pabrik di seluruh China.Menurut laporan itu, beberapa dari mereka langsung di kirim dari kamp tahanan.Menurut ASPI warga Uighur dipidahkan melalui skema transfer buruh yang dijalankan oleh pemerintah pusat, bernama Xinjiang Aid.

Menurut laporan tersebut, pabrik-pabrik tersebut merupakan bagian dari rantai pasok dari 83 merek global terkenal termasuk Nike, Apple dan Dell.Laporan ini mengatakan “sangat sulit” bagi Muslim Uighur untuk menolak atau melarikan diri dari penugasan kerja ini, karena adanya ancaman “penahanan semena-mena” yang menghantui mereka.Laporan ini menambahkan adanya bukti bahwa pemerintah lokal dan perantara privat “dibayar per kepala” oleh pemerintah Xinjiang untuk mengatur penugasan, yang disebut ASPI sebagai “fase baru represi terus menerus dari pemerintah China” terhadap Muslim Uighur.

“Laporan kami memperjelas bahwa perampasan yang terjadi pada Muslim Uighur dan etnis minoritas lain di Xinjiang punya ciri yang jelas sebagai eksploitasi ekonomi,” kata salah satu penulis laporan Nathan Ruser kepada BBC.”Kami berhasil mengungkap hal ini dari rantai pasokan global yang selama ini tersembunyi”.Laporan mengenai kamp tahanan di Xinjiang ini pertamakali muncul tahun 2018.Pihak berwenang China megnatakan itu merupakan “pusat pelatihan keterampilan” yang dipakai untuk melawan ekstremis keagamaan.

Namun bukti-bukti memperlihatkan banyak orang yang ditahan karena memperlihatkan agama dan keyakinan mereka dengan melakukan salat, berdoa atau memakai jilbab, atau memiliki hubungan dengan negara luar seperti Turki.Beijing menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat terkait hal itu.Media pemerintah China mengatakan kesertaan dalam skema perpindahan ini bersifat sukarela.Pejabat menyangkal adanya “kerja paksa” untuk keperluan komersial buruh-buruh dari Xinjiang ini, menurut laporan ASPI.

Di mana mereka bekerja?
ASPI mengatakan telah mengidentifikasi 27 pabrik di sembilan provinsi di China yang menggunakan buruh yang ditransfer dari Xinjiang sejak 2017.Di pabrik-pabrik itu, ASPI menyatakan Muslim Uighur umumnya dipaksa tinggal di asrama terpisah, belajar bahasa Mandarin dan menjalani “pelatihan ideologi” di luar jam kerja.

Baca Juga :Korban Kerusuhan Muslim Di India

Mereka juga diawasi terus menerus dan dilarang menjalankan praktik keagamaan.Menurut ASPI, perusahaan-perusahaan China dan luar negeri “mungkin tanpa sadar” terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.ASPI menyerukan agar mereka melakukan “pemeriksaan segera dan menyeluruh” terkait pelaggaran hak asasi manusia ini di pabrik-pabrik mereka di China.

Surat kabar Washington Post mengunjungi satu pabrik yang disebutkan dalam laporan, yang memproduksi sepatu untuk perusahaan raksasa olah raga Nike.Kata mereka, pabrik itu mirip penjara, dilengkapi pagar berduri, menara pengawas, kamera dan pos polisi.”Kita bisa jalan-jalan di sini, tapi tak bisa kembali ke Xinjiang,” kata seorang perempuan Uighur kepada Washington Post di pintu gerbang pabrik itu di kota Laixi.

Nike mengatakan kepada Washington Post mereka “berkomitmen untuk menegakkan standar internasional ketenagakerjaan” dan pemasok mereka “dilarang menggunakan segala jenis penjara kerja paksa, kerja terikat dan kuli kontrak”.Apple mengatakan mereka “mengambil semua langkah untuk memastikan bahwa semua dalam rantai pasokan mereka diperlakukan dengan hormat dan penghargaan yang selayaknya mereka dapatkan”.