kerusuhan india 1992

Konflik Hindu Muslim Di India Konflik Hindu Muslim Di India

alagagrh.net Akibat dari bentroknya agama di Delhi,menyebabkan banyak memakan korban,Konflik Hindu Muslim Di IndiaPada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Konflik Hindu Muslim Di India. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Konflik Hindu Muslim Di India

Bentrokan terjadi pada Minggu antara kelompok yang menentang dan setuju undang-undang kewarganegaraan yang oleh kritikus disebut meminggirkan Muslim.Regulasi itu memperbolehkan warga non-Muslim asal Bangladesh, Pakistan dan Afghanistan yang masuk ke India secara ilegal, untuk menjadi warga negaranya.Pemerintah India yang kini dikuasai oleh partai Nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP), mengatakan undang-undang ini akan memberi perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri dari persekusi agama.RUU ini memicu aksi protes sejak diloloskan tahun lalu, beberapa di antaranya berujung bentrok.Mutasi seorang hakim yang ‘vokal’ terhadap aksi kekerasan di Delhi telah menimbulkan kekhawatiran baru di India, ketika para politisi dikecam karena dianggap tidak berbuat apa-apa.

Hakim S. Muralidhar, yang sebelumnya mendengarkan petisi terhadap kerusuhan berbasis agama telah mengutuk pemerintah dan polisi, Rabu (26/02). Setelah kritik ini dilontarkan, malam harinya Hakim Muralidhar dimutasi.Sampai Kamis (27/02), lebih dari 30 orang tewas dalam aksi kerusuhan ini.Kerusuhan prtama terjadi pada Ahad (23/02) antara kelompok pendukung dan kontra terhadap Undang Undang Kewarganegaraan di timur Delhi.Sejak saat itu kelompok yang bertikai mengambil posisi secara komunal, dengan melaporkan banyak warga Muslim di India yang diserang.

Meskipun kekerasan mulai berkurang pada Rabu kemarin, terdapat laporan kekerasan yang terjadi secara sporadis di wilayah rawan hingga malam dan situasi tetap tegang.Pada Kamis ini, fokus isu telah berganti terhadap mutasi Hakim Muralidhar dari pengadilan tinggi. Mutasinya pertama kali diumumkan dua pekan sebelum kekerasan meletus. Akan tetapi koresponden BBC mengatakan, komentar hakim di pengadilan itu yang telah mempercepat mutasi tersebut.Saat mendengarkan petisi tentang kekerasan, Hakim Muralidhar mengatakan bahwa pengadilan tak dapat membiarkan peristiwa “1984 lain” terjadi kembali. Pada 1984, lebih dari 3.000 orang Sikh terbunuh dalam kerusuhan melawan komunitas di Delhi.

Saat mendengarkan petisi, sejumlah video diputar, memperlihatkan para pimpinan dari Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India telah menghasut kelompok Hindu terhadap sebagian besar pendemo dari kalangan Muslim.Hakim Muralidhar kemudian meminta kepolisian menerima pengaduan dan melaporkan pada pemerintah untuk memastikan bahwa tiap korban dipindahkan dan diberikan tempat tinggal sementara disertai perawatan medis.Komentarnya telah menjadi halaman muka pada Rabu (26/02), dengan banyak pujian atas “sikap berani”-nya.Berita tentang mutasinya telah membuat masyarakat India prihatin dan marah.Tapi pemerintah menyatakan, mutasi tersebut dilakukan atas persetujuan hakim diikuti dengan “proses yang baik”.

Sejauh ini Hakim Muralidhar belum berkomentar lagi.Menanggapi kemarahan dari publik, Menteri Hukum, Ravi Shankar Prasad melalui twitternya mengatakan mutasi hanya “transfer rutin”.Kerusuhan terjadi di tiga area yang mayoritas ditinggali oleh Muslim, sekitar 18 km dari ibu kota Delhi, pada Minggu (23/02).Sebuah kelompok yang mendukung RUU ini memprotes blokade yang dilakukan oleh mereka yang menentang RUU ini.Tak lama, aksi pelemparan batu terjadi.

Pemimpin BJP, Kapil Mishra, dituding terlibat dalan kerusuhan itu, karena sebelumnya mengancam kelompok yang menentang RUU tersebut, menyebut mereka akan diusir secara paksa begitu Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan India.Presiden AS melakukan kunjungan resmi pertamanya ke negara itu dari 24 hingga 26 Februari.Meskipun belum ada laporan bentrokan baru pada hari Rabu (26/02), kota ini terus tetap gelisah setelah kerusuhan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut.Kerusuhan yang terjadi, bukan lagi tentang hukum kewarganegaraan baru.

Media setempat mengatakan kekerasan itu berubah menjadi sektarian, dengan laporan orang diserang berdasarkan agama mereka.Ada laporan sekelompok pria dengan tongkat, batang besi dan batu berkeliaran di jalan-jalan dan orang-orang Hindu dan Muslim saling berhadapan.Jalan utama di lingkungan ini berantakan, kata wartawan BBC yang berada di lokasi kejadian.Jalanan dipenuhi dengan batu dan pecahan kaca, kendaraan yang rusak dan terbakar berserakan, dan bau asap dari bangunan yang membara memenuhi udara, kata wartawan BBC dari India, Faisal Mohammed.

Ada juga laporan tentang rumah-rumah dan toko-toko Muslim yang menjadi sasaran gerombolan perusuh.Wartawan BBC dari India, Faisal Mohammed, mengatakan dia melihat sebuah masjid yang terbakar sebagian, dengan halaman-halaman dari Alquran tergeletak di tanah.Masjid lainnya dirusak pada Selasa siang. Sebuah rekaman yang tersebar di media sosial menunjukkan seorang pria berusaha mencoba melepas bulan sabit dari atas menara masjid.

Baca Juga :Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

Setidaknya 200 orang menjadi korban dalam kerusuhan itu, baik dari warga Muslim maupun Hindu.Wartawan BBC mengatakan mereka melihat orang dengan segala macam cedera di rumah sakit, termasuk luka tembak, berebut untuk perawatan.Mereka mengatakan rumah sakit itu tampak “kewalahan”, dan banyak dari mereka yang terluka “terlalu takut untuk pulang ke rumah”.Saksi mata mengatakan beberapa anggota gerombolan itu membawa senjata dan ada laporan tentang tembakan yang ditembakkan dari atap rumah.

Petugas rumah sakit juga mengkonfirmasi bahwa banyak dari yang terluka mengalami luka tembak.Juru bicara kepolisian Delhi, MS Randhawa, mengatakan kepara wartawan pada Selasa bahwa situasi sudah bisa dikendalikan dan “sejumlah aparat polisi” sudah dikerahkan. Demikian halnya dengan pasukan paramiliter.Kendati begitu, polisi dituding tidak siap dan kalah jumlah dalam menghadapi kerusuhan itu. Sejumlah 50 aparat polisi terluka dan setidaknya satu di antara mereka terbunuh.

Kepolisian ibukota melapor langsung kepada pemerintah yang dipimpin Mr Bharatiya Janata Party (BJP) yang berkuasa, alih-alih ke administrasi negara.Jajaran kabinet India akan bertemu hari ini untuk membahas kerusuhan di ibukota.Area kerusuhan berdekatan dengan perbatasan Delhi dan negara bagian Uttar Pradesh yang kini sudah ditutup.Sekolah-sekolah di area itu juga diliburkan dan acara publik di beberapa area tidak diperbolehkan.Pihak berwenang mendesak publik untuk menjaga perdamaian.

“Adalah penting bahwa ada ketenangan dan keadaan normal dipulihkan paling cepat,” ujar Perdana Menteri Narendra Modi dalam cuitannya di Twitte pada hari Rabu, tiga hari setelah kerusuhan pecah.Sejak Narendra Modi berkuasa pada 2014, nasionalisme Hindu sayap kanan mulai bangkit di India.Modi bahkan menjadikannya landasan kampanye dalam pemilihan umum 2019 lalu.Momen kerusuhan terjadi yang bertepatan dengan kunjungan Presiden Trump dianggap memalukan baginya.Ketika kerusuhan meningkat, itu menaungi kunjungan Trump, dan menjadikannya sebagai berita utama nasionald an global.

Korban Kerusuhan Muslim Di India Korban Kerusuhan Muslim Di India

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Korban Kerusuhan Muslim Di India. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Korban Kerusuhan Muslim Di India.

Awalnya, seperti jutaan migran miskin lain, ia tinggal di dalam gubuk terpal, di pinggiran ibu kota India yang padat. Ia bekerja di toko penjilidan buku dan pindah ke Khajuri Khas, lingkungan kumuh di timur laut Delhi, tempat dengan tingkat literasi lebih rendah dari rata-rata nasional.

Ketika toko penjilidan buku itu bangkrut, Munazir memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Ia membeli sebuah gerobak, nasi, dan ayam, kemudian mulai berdagang nasi biryani. Bisnisnya sukses. “Saya bagaikan pahlawan, semua orang suka masakan saya,” ujarnya.Setiap hari, ia memasak 15 kilogram biryani dan mendapatkan hingga 900 rupee (sekitar Rp174.000) untuk jerih payahnya. Akhirnya hidup Munazir mulai membaik.Sekitar tiga tahun lalu, Munazir dan saudaranya yang bekerja sebagai supir mengumpulkan 2,4 juta rupee dari tabungan mereka dan membeli sebuah rumah — bangunan dua-lantai sederhana di sebuah jalan sempit.

Di setiap lantai terdapat dua kamar sempit tak berjendela, dapur kecil, dan kamar mandi. Bangunan itu terlalu sesak untuk dua keluarga, tapi bagi Munazir dan kakaknya, ia adalah rumah.Mereka bahkan memasang pendingin ruangan untuk menjaga keluarga mereka tetap nyaman saat musim panas yang lembap di Delhi.”[Rumah] ini adalah sarang yang akhirnya saya bangun untuk istri dan enam anak saya setelah berjuang seumur hidup saya,” kata Munazir. “Ini satu-satunya hal yang inginkan dalam hidup ini, satu-satunya mimpi saya yang menjadi nyata.”

Mimpi itu dilahap api pada Selasa (26/02) pagi pekan lalu.Rumah Munazir dirampok dan dibakar oleh sekelompok pria muda yang mengenakan topeng dan helm. Mereka menyisir lingkungan perumahan tempat Munazir tinggal, bersenjatakan batang kayu, tongkat hoki, batu, dan botol berisi bensin.Mereka melantunkan “Jai Shri Ram”, atau “Kemenangan bagi Dewa Rama”, salam yang telah berubah menjadi slogan maut kelompok radikal Hindu dalam beberapa tahun terakhir.

Khajuri Khas adalah salah satu permukiman kumuh yang dilanda kerusuhan agama paling mematikan di Delhi dalam puluhan tahun, dipicu oleh bentrokan terkait undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial. Tidak terjadi pembunuhan di sini. Tapi tiga hari kerusuhan dan pembakaran akhirnya memakan lebih dari 40 nyawa, meninggalkan ratusan lainnya terluka dan hilang.

Properti senilai jutaan dolar hancur. Dan ada bukti bahwa warga Muslim disasar dengan terencana, dengan banyak contoh yang menunjukkan beberapa polisi membantu perusuh, atau sekadar mengabaikan mereka.

Terdapat sekitar 200 rumah dan toko di jalanan sempit Khajuri Khas, seperlimanya milik warga Muslim. Namun hampir mustahil membedakan bangunan yang dimiliki warga Muslim dengan yang dimiliki warga Hindu. Bangunan-bangunan itu bahkan berbagi tembok dan garis atap.

Tapi pekan lalu, para perusuh menyasar rumah dan toko milik Muslim dengan mudah. Puing-puing rumah warga Muslim yang tertutup jelaga kini berdiri di samping rumah-rumah warga Hindu yang tak tersentuh dan rapi. Toko-toko milik umat Muslim serta pusat pelatihan dan pabrik soda terbakar habis. Sedangkan toko-toko milik umat Hindu sudah mulai dibuka.

Satu-satunya hal masih menjadi milik bersama kedua komunitas adalah jalanan yang penuh dengan sisa-sisa kekerasan: kaca pecah, kendaraan terbakar, robekan buku-buku pelajaran, roti yang menjadi arang. Hanya embik kambing-kambing di antara puing-puing bangunan yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Baca Juga :Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi

“Saya sama sekali tidak tahu apakah para perusuh itu orang dalam atau orang luar. Kami tak bisa melihat wajah mereka. Tapi bagaimana mereka bisa mengenali rumah-rumah kami yang tertutup tanpa bantuan warga lokal?” Munazir bertanya-tanya.Dalam semalam, rasa curiga tumbuh di antara dua komunitas.Di seberang rumah Munazir yang sekarang habis terbakar terdapat bangunan dua-lantai milik seorang tetangga Hindu yang berdagang daun sirih dan tinggal bersama dua anak laki-lakinya, yang bekerja di perusahaan transportasi umum.

Selama bertahun-tahun, kata Munazir, warga hidup bertetangga dengan damai. “Saya bahkan pernah ngekos di rumahnya. Ia bisa saja keluar rumah dan mencoba berunding dengan massa,” kata Munazir. “Mungkin rumah saya bisa diselamatkan.”Pada pagi hari ketika massa mulai memasuki lingkungan perumahan, Munazir serasa dihujam oleh rasa takut tiba-tiba. Ia memanggil polisi dan pemadam kebakaran.

Seorang warga Hindu yang bekerja sebagai guru sekolah berusaha menenangkan pria-pria bersenjata itu dan meminta mereka pergi. “Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa. Pulanglah,” katanya kepada para warga Muslim yang gelisah.Seorang pria muda beragama Hindu berusaha menghentikan massa yang hendak memasuki jalan lain. Namun para perusuh tidak mau mendengar permohonannya, dan tak lama kemudian melonjak ke jalanan. Pada saat itu Munazir berlari ke rumahnya dan kemudian mengunci pintu depan.

Massa berusaha mendobrak pintu rumah Munazir, dan kemudian beralih ke sebuah masjid tak jauh dari sana, melemparkan bom molotov ke bangunan tersebut. Polisi, kata Munazir, datang enam jam kemudian, dan menuntun para warga Muslim ke tempat aman sambil disaksikan para perusuh, yang kadang-kadang menampar dan melempari warga yang mengungsi dengan batu.

Setelah warga mengungsi bersama polisi, para perusuh memasuki rumah mereka, membakar dan merampok seenaknya. “Kamu beruntung masih hidup,” kata seorang polisi kepada Munazir. “Kami akan membawa kamu ke manapun kamu mau.”Ia diminta pergi ke rumah saudaranya di jalan yang dihuni warga mayoritas Muslim tak jauh dari situ.

Ketika ia sampai bersama keluarganya, ia menemukan 70 laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari 11 keluarga setempat telah berlindung di tiga kamar kecil. Di antara mereka ada seorang perempuan muda yang mengikat bayinya yang baru berumur enam hari ke pinggangnya dan melompati tiga atap untuk sampai ke tempat aman. Semua rumah mereka telah hancur.

Polisi membantu membawa beberapa orang ke tempat itu, dan sedikitnya 40 orang lainnya diselamatkan oleh seorang perempuan gagah berani yang merupakan pemilik bangunan.

“Kami masih bertanya-tanya mengapa polisi tidak kembali ke perumahan dan melindungi rumah-rumah kami. Kenapa mereka tidak memanggil bantuan? Apakah disengaja, ataukah mereka tidak punya cukup tenaga?” kata Fayaz Alam, seorang insinyur muda yang merantau ke Delhi untuk mencari pekerjaan.

Itulah mengapa sebagian besar dari 70 ‘pengungsi’ di Khajuri Khas berutang nyawa kepada Mushtari Khatoon, perempuan tua yang mengumpulkan keberanian untuk menyeberang jalan utama, memasuki jalanan yang dilanda kerusuhan, dan mengantarkan perempuan dan anak-anak Muslim ke tempat aman pada pagi-pagi buta.

Ia melewati massa yang mengamuk dan pergi ke lokasi kerusuhan “empat sampai lima kali” untuk membawa mereka sejauh hampir satu kilometer ke rumahnya. Para perempuan dan anak-anak melompat dari atap ke atap sampai mereka menemukan bangunan yang aman untuk keluar.Khatoon akhirnya menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada polisi.”Mulai sekarang kami harus melindungi diri kami sendiri. Delhi tidak akan menyelamatkan kami lagi,” ujarnya. Ada nada menantang, alih-alih putus asa, dalam suaranya.