Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

Australian Strategic Policy Institute (ASPI) mengatakan hal ini merupakan fase baru dalam program re-edukasi terhadap Muslim Uighur.China menahan sekitar satu juga Muslim Uighur di kamp tahanan, menghukum serta mengindoktrinasi mereka.Secara resmi, kamp-kamp ini disebutkan punya tujuan untuk melawan ekstremisme.Laporan ASPI diterbitkan sesudah pejabat senior China menyatakan kepada wartawan bulan Desember tahun lalu bahwa anggota kelompok minoritas dalam kamp telah “lulus”.

Apa kata laporan itu?
ASPI memperkirakan antara 2017 dan 2019 ada lebih dari 80.000 etnik Uighur dipindahkan dari wilayah otonomi Xinjiang untuk bekerja di pabrik-pabrik di seluruh China.Menurut laporan itu, beberapa dari mereka langsung di kirim dari kamp tahanan.Menurut ASPI warga Uighur dipidahkan melalui skema transfer buruh yang dijalankan oleh pemerintah pusat, bernama Xinjiang Aid.

Menurut laporan tersebut, pabrik-pabrik tersebut merupakan bagian dari rantai pasok dari 83 merek global terkenal termasuk Nike, Apple dan Dell.Laporan ini mengatakan “sangat sulit” bagi Muslim Uighur untuk menolak atau melarikan diri dari penugasan kerja ini, karena adanya ancaman “penahanan semena-mena” yang menghantui mereka.Laporan ini menambahkan adanya bukti bahwa pemerintah lokal dan perantara privat “dibayar per kepala” oleh pemerintah Xinjiang untuk mengatur penugasan, yang disebut ASPI sebagai “fase baru represi terus menerus dari pemerintah China” terhadap Muslim Uighur.

“Laporan kami memperjelas bahwa perampasan yang terjadi pada Muslim Uighur dan etnis minoritas lain di Xinjiang punya ciri yang jelas sebagai eksploitasi ekonomi,” kata salah satu penulis laporan Nathan Ruser kepada BBC.”Kami berhasil mengungkap hal ini dari rantai pasokan global yang selama ini tersembunyi”.Laporan mengenai kamp tahanan di Xinjiang ini pertamakali muncul tahun 2018.Pihak berwenang China megnatakan itu merupakan “pusat pelatihan keterampilan” yang dipakai untuk melawan ekstremis keagamaan.

Namun bukti-bukti memperlihatkan banyak orang yang ditahan karena memperlihatkan agama dan keyakinan mereka dengan melakukan salat, berdoa atau memakai jilbab, atau memiliki hubungan dengan negara luar seperti Turki.Beijing menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat terkait hal itu.Media pemerintah China mengatakan kesertaan dalam skema perpindahan ini bersifat sukarela.Pejabat menyangkal adanya “kerja paksa” untuk keperluan komersial buruh-buruh dari Xinjiang ini, menurut laporan ASPI.

Di mana mereka bekerja?
ASPI mengatakan telah mengidentifikasi 27 pabrik di sembilan provinsi di China yang menggunakan buruh yang ditransfer dari Xinjiang sejak 2017.Di pabrik-pabrik itu, ASPI menyatakan Muslim Uighur umumnya dipaksa tinggal di asrama terpisah, belajar bahasa Mandarin dan menjalani “pelatihan ideologi” di luar jam kerja.

Baca Juga :Korban Kerusuhan Muslim Di India

Mereka juga diawasi terus menerus dan dilarang menjalankan praktik keagamaan.Menurut ASPI, perusahaan-perusahaan China dan luar negeri “mungkin tanpa sadar” terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.ASPI menyerukan agar mereka melakukan “pemeriksaan segera dan menyeluruh” terkait pelaggaran hak asasi manusia ini di pabrik-pabrik mereka di China.

Surat kabar Washington Post mengunjungi satu pabrik yang disebutkan dalam laporan, yang memproduksi sepatu untuk perusahaan raksasa olah raga Nike.Kata mereka, pabrik itu mirip penjara, dilengkapi pagar berduri, menara pengawas, kamera dan pos polisi.”Kita bisa jalan-jalan di sini, tapi tak bisa kembali ke Xinjiang,” kata seorang perempuan Uighur kepada Washington Post di pintu gerbang pabrik itu di kota Laixi.

Nike mengatakan kepada Washington Post mereka “berkomitmen untuk menegakkan standar internasional ketenagakerjaan” dan pemasok mereka “dilarang menggunakan segala jenis penjara kerja paksa, kerja terikat dan kuli kontrak”.Apple mengatakan mereka “mengambil semua langkah untuk memastikan bahwa semua dalam rantai pasokan mereka diperlakukan dengan hormat dan penghargaan yang selayaknya mereka dapatkan”.

Korban Kerusuhan Muslim Di India Korban Kerusuhan Muslim Di India

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Korban Kerusuhan Muslim Di India. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Korban Kerusuhan Muslim Di India.

Awalnya, seperti jutaan migran miskin lain, ia tinggal di dalam gubuk terpal, di pinggiran ibu kota India yang padat. Ia bekerja di toko penjilidan buku dan pindah ke Khajuri Khas, lingkungan kumuh di timur laut Delhi, tempat dengan tingkat literasi lebih rendah dari rata-rata nasional.

Ketika toko penjilidan buku itu bangkrut, Munazir memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Ia membeli sebuah gerobak, nasi, dan ayam, kemudian mulai berdagang nasi biryani. Bisnisnya sukses. “Saya bagaikan pahlawan, semua orang suka masakan saya,” ujarnya.Setiap hari, ia memasak 15 kilogram biryani dan mendapatkan hingga 900 rupee (sekitar Rp174.000) untuk jerih payahnya. Akhirnya hidup Munazir mulai membaik.Sekitar tiga tahun lalu, Munazir dan saudaranya yang bekerja sebagai supir mengumpulkan 2,4 juta rupee dari tabungan mereka dan membeli sebuah rumah — bangunan dua-lantai sederhana di sebuah jalan sempit.

Di setiap lantai terdapat dua kamar sempit tak berjendela, dapur kecil, dan kamar mandi. Bangunan itu terlalu sesak untuk dua keluarga, tapi bagi Munazir dan kakaknya, ia adalah rumah.Mereka bahkan memasang pendingin ruangan untuk menjaga keluarga mereka tetap nyaman saat musim panas yang lembap di Delhi.”[Rumah] ini adalah sarang yang akhirnya saya bangun untuk istri dan enam anak saya setelah berjuang seumur hidup saya,” kata Munazir. “Ini satu-satunya hal yang inginkan dalam hidup ini, satu-satunya mimpi saya yang menjadi nyata.”

Mimpi itu dilahap api pada Selasa (26/02) pagi pekan lalu.Rumah Munazir dirampok dan dibakar oleh sekelompok pria muda yang mengenakan topeng dan helm. Mereka menyisir lingkungan perumahan tempat Munazir tinggal, bersenjatakan batang kayu, tongkat hoki, batu, dan botol berisi bensin.Mereka melantunkan “Jai Shri Ram”, atau “Kemenangan bagi Dewa Rama”, salam yang telah berubah menjadi slogan maut kelompok radikal Hindu dalam beberapa tahun terakhir.

Khajuri Khas adalah salah satu permukiman kumuh yang dilanda kerusuhan agama paling mematikan di Delhi dalam puluhan tahun, dipicu oleh bentrokan terkait undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial. Tidak terjadi pembunuhan di sini. Tapi tiga hari kerusuhan dan pembakaran akhirnya memakan lebih dari 40 nyawa, meninggalkan ratusan lainnya terluka dan hilang.

Properti senilai jutaan dolar hancur. Dan ada bukti bahwa warga Muslim disasar dengan terencana, dengan banyak contoh yang menunjukkan beberapa polisi membantu perusuh, atau sekadar mengabaikan mereka.

Terdapat sekitar 200 rumah dan toko di jalanan sempit Khajuri Khas, seperlimanya milik warga Muslim. Namun hampir mustahil membedakan bangunan yang dimiliki warga Muslim dengan yang dimiliki warga Hindu. Bangunan-bangunan itu bahkan berbagi tembok dan garis atap.

Tapi pekan lalu, para perusuh menyasar rumah dan toko milik Muslim dengan mudah. Puing-puing rumah warga Muslim yang tertutup jelaga kini berdiri di samping rumah-rumah warga Hindu yang tak tersentuh dan rapi. Toko-toko milik umat Muslim serta pusat pelatihan dan pabrik soda terbakar habis. Sedangkan toko-toko milik umat Hindu sudah mulai dibuka.

Satu-satunya hal masih menjadi milik bersama kedua komunitas adalah jalanan yang penuh dengan sisa-sisa kekerasan: kaca pecah, kendaraan terbakar, robekan buku-buku pelajaran, roti yang menjadi arang. Hanya embik kambing-kambing di antara puing-puing bangunan yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Baca Juga :Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi

“Saya sama sekali tidak tahu apakah para perusuh itu orang dalam atau orang luar. Kami tak bisa melihat wajah mereka. Tapi bagaimana mereka bisa mengenali rumah-rumah kami yang tertutup tanpa bantuan warga lokal?” Munazir bertanya-tanya.Dalam semalam, rasa curiga tumbuh di antara dua komunitas.Di seberang rumah Munazir yang sekarang habis terbakar terdapat bangunan dua-lantai milik seorang tetangga Hindu yang berdagang daun sirih dan tinggal bersama dua anak laki-lakinya, yang bekerja di perusahaan transportasi umum.

Selama bertahun-tahun, kata Munazir, warga hidup bertetangga dengan damai. “Saya bahkan pernah ngekos di rumahnya. Ia bisa saja keluar rumah dan mencoba berunding dengan massa,” kata Munazir. “Mungkin rumah saya bisa diselamatkan.”Pada pagi hari ketika massa mulai memasuki lingkungan perumahan, Munazir serasa dihujam oleh rasa takut tiba-tiba. Ia memanggil polisi dan pemadam kebakaran.

Seorang warga Hindu yang bekerja sebagai guru sekolah berusaha menenangkan pria-pria bersenjata itu dan meminta mereka pergi. “Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa. Pulanglah,” katanya kepada para warga Muslim yang gelisah.Seorang pria muda beragama Hindu berusaha menghentikan massa yang hendak memasuki jalan lain. Namun para perusuh tidak mau mendengar permohonannya, dan tak lama kemudian melonjak ke jalanan. Pada saat itu Munazir berlari ke rumahnya dan kemudian mengunci pintu depan.

Massa berusaha mendobrak pintu rumah Munazir, dan kemudian beralih ke sebuah masjid tak jauh dari sana, melemparkan bom molotov ke bangunan tersebut. Polisi, kata Munazir, datang enam jam kemudian, dan menuntun para warga Muslim ke tempat aman sambil disaksikan para perusuh, yang kadang-kadang menampar dan melempari warga yang mengungsi dengan batu.

Setelah warga mengungsi bersama polisi, para perusuh memasuki rumah mereka, membakar dan merampok seenaknya. “Kamu beruntung masih hidup,” kata seorang polisi kepada Munazir. “Kami akan membawa kamu ke manapun kamu mau.”Ia diminta pergi ke rumah saudaranya di jalan yang dihuni warga mayoritas Muslim tak jauh dari situ.

Ketika ia sampai bersama keluarganya, ia menemukan 70 laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari 11 keluarga setempat telah berlindung di tiga kamar kecil. Di antara mereka ada seorang perempuan muda yang mengikat bayinya yang baru berumur enam hari ke pinggangnya dan melompati tiga atap untuk sampai ke tempat aman. Semua rumah mereka telah hancur.

Polisi membantu membawa beberapa orang ke tempat itu, dan sedikitnya 40 orang lainnya diselamatkan oleh seorang perempuan gagah berani yang merupakan pemilik bangunan.

“Kami masih bertanya-tanya mengapa polisi tidak kembali ke perumahan dan melindungi rumah-rumah kami. Kenapa mereka tidak memanggil bantuan? Apakah disengaja, ataukah mereka tidak punya cukup tenaga?” kata Fayaz Alam, seorang insinyur muda yang merantau ke Delhi untuk mencari pekerjaan.

Itulah mengapa sebagian besar dari 70 ‘pengungsi’ di Khajuri Khas berutang nyawa kepada Mushtari Khatoon, perempuan tua yang mengumpulkan keberanian untuk menyeberang jalan utama, memasuki jalanan yang dilanda kerusuhan, dan mengantarkan perempuan dan anak-anak Muslim ke tempat aman pada pagi-pagi buta.

Ia melewati massa yang mengamuk dan pergi ke lokasi kerusuhan “empat sampai lima kali” untuk membawa mereka sejauh hampir satu kilometer ke rumahnya. Para perempuan dan anak-anak melompat dari atap ke atap sampai mereka menemukan bangunan yang aman untuk keluar.Khatoon akhirnya menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada polisi.”Mulai sekarang kami harus melindungi diri kami sendiri. Delhi tidak akan menyelamatkan kami lagi,” ujarnya. Ada nada menantang, alih-alih putus asa, dalam suaranya.

Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi

Kerusuhan di wilayah timur laut Delhi telah menyebabkan kematian 40 orang dari kelompok Hindu dan Muslim. Bagi ribuan perempuan Muslim dan anak-anak yang kehilangan tempat tinggal, masa depan tampak suram.Di sebuah ruang serba guna di Indira Vihar, ratusan perempuan dan anak-anak yang terusir dari tempat tinggal mereka tengah duduk di atas karpet atau alas. Banyak dari perempuan muda tengah menggendong bayi mereka, tapi ada juga anak kecil, dan anak yang lebih besar tengah bermain.

Ruang serba guna tersebut milik seorang pengusaha Muslim. Tempat itu berubah menjadi pusat pengungsian bagi korban kerusuhan.Perempuan dan anak-anak tersebut melarikan diri dari sekelompok warga Hindu yang menyerang rumah mereka di Shiv Vihar, salah satu area yang paling terdampak dalam kerusuhan ini.Shiv Vihar, area yang didominasi kelompok pekerja beragama Hindu dengan populasi Muslim yang cukup besar, serupa labirin gang sempit yang terletak di dekat selokan yang kotor. Beberapa ratus meter, di jalur selokan yang sama, ada area yang dihuni sebagian besar masyarakat Muslim di Chaman Park dan Indira Vihar.

Ada jalan yang memisahkan area Muslim dan Hindu dan kedua komunitas tersebut hidup berdampingan secara damai selama puluhan tahun. Tapi semua itu telah berubah.Nasreen Ansari, yang meninggalkan tempat tinggalnya di Shiv Vihar, mengatakan kerusuhan itu dimulai Selasa sore, ketika hanya ada kebanyakan perempuan di rumah. Para pria tengah berada di bagian lain di kota Delhi untuk menghadiri pertemuan keagamaan.”Kami melihat sekitar 50-60 pria. Aku tidak tahu siapa mereka, kami tidak pernah melihat mereka sebelumnya,” kata Nasreen. “Mereka mengatakanpada kami mereka datang untuk melindungi mereka dan kami harus tetap tinggal di dalam rumah.”

Sambil menyaksikan para pria tersebut dari balik jendela, mereka langsung tersadar bahwa pria-pria itu tidak bermaksud untuk melindungi mereka.Ia menunjukkan video yang ia ambil dari balik jendela. Video itu menunjukkan beberapa dari pria itu menggunakan pelindung kepala dan membawa tongkat kayu.Nasreen mengatakan para pria itu meneriakkan slogan-slogan Hindu seperti Jai Shri Ram (Sembah Dewa Rama) dan melantunkan pujian seperti Hanuman Chalisa (pujian untuk dewa monyet, Hanuman).Ibunya, Noor Jehan Ansari, mengatakan tetangga Muslim memberitahu bahwa rumahnya telah dibakar massa.

“Dari jendela, kami bisa melihat rumah tetangga Muslim yang lain dan toko obatnya yang mulai dibakar api.”Para penyerang itu, katanya, merusak saklar listrik dan, menjelang Maghrib, area itu menjadi gelap gulita.”Tak lama setelah itu, api menyala di sekeliling kami, dan kami diserbu bom molotov dan tabung gas kecil, yang dilempar ke arah pertokoan dan rumah milik warga Muslim. Rumah warga Hindu aman,” katanya. “Kami tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi pada kami. Kesalahan kami hanyalah karena kami terlahir Muslim.”Nasreen mengatakan perempuan itu mencoba menghubungi polisi. “Setiap kali mereka mengatakan akan tiba dalam lima menit.”Pada titik tertentu, Nasreen mengatakan ia menghubungi anggota keluarga dan mengatakan bahwa mereka “mungkin tidak akan mampu bertahan malam itu”.

Akhirnya, mereka diselamatkan pada pukul 03:00 pagi, 12 jam setelah pengepungan itu dimulai, saat polisi, didampingi oleh pria Muslim dari Chaman Park dan Indira Vihar akhirnya tiba.”Kami lari untuk menyelamatkan nyawa, hanya dengan membawa pakaian. Kami bahkan tidak sempat mengenakan sepatu,” katanya.Beberapa perempuan lainnya di lokasi pengungsian mengisahkan cerita yang sama.Shira Malik, 19, mengatakan ia dan keluarganya berlindung di rumah tetangga. “Kami terjebak. Batu dan bom molotov berdatangan bak hujan.”Banyak perempuan bercerita bahwa banyak dari mereka hampir dilecehkan malam itu. Para penyerang, menurut mereka, menarik hijab dan merobek pakaian mereka.Seorang ibu dari bayi berusia satu tahun menangis saat ia bercerita bagaimana pakaiannya dirobek oleh beberapa pria yang memasuki rumah mereka.Seorang perempuan lain yang berusia 30-an mengatakan satu-satunya alasan ia masih hidup adalah karena ia mendapatkan bantuan dari tetangga Hindu.

Baca Juga :Menag Imbau Umat Muslim Di India

“Tetanggaku mengatakan pada para penyerang itu, ‘Dia adalah keluarga kami. Tidak ada perempuan Muslim di sini.’ Saat kelompok penyerang itu pergi, tetanggaku membantuku kabur,” katanya.Kekerasan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini bermula dari Minggu sore, ketika kekerasan berskala kecil terjadi antara kelompok pendukung dan penolak undang-undang kewarganegaraan yang baru.Dalam beberapa jam, kekerasan tersebut menjalar ke area lain, termasuk Shiv Vihar dan Chaman Park.

Sembari berjalan mengelilingi area tersebut, saya melihat jalan-jalan yang menjadi saksi kekerasan itu. Puluhan polisi anti huru-hara berjaga-jaga untuk mencegah kerusuhan susulan.Batu-batuan yang digunakan untuk melempari bangunan masih bertebaran, sementara banyak kendaraan, rumah dan toko yang hangus terbakar. Di Shiv Vihar terdapat masjid yang juga hangus terbakar.Di pusat pengungsian di Indira Vihar, para pengungsi perempuan mengatakan mereka tidak tahu kapan mereka bisa kembali ke rumah.

Shabana Rehman mengatakan anak-anaknya terus bertanya kapan mereka bisa pulang.”Rumahku habis dibakar para penyerang. Ke mana kami bisa pulang? Bagaimana masa depan anak-anakku? Siapa yang akan mengurus kami? Kami sudah kehilangan semua dokumen,” katanya sambil menangis.Rumah yang telah ia tinggali selama puluhan tahun di Shiv Vihar tak seberapa jauh dari tempat ia mengungsi, tapi jaraknya tampak tidak dapat terjembatani.

Menag Imbau Umat Muslim Di India Menag Imbau Umat Muslim Di India

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Menag Imbau Umat Muslim Di India. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Menag Imbau Umat Muslim Di India

Menteri Agama Fachrul Razi mengimbau agar solidaritas umat Islam di Indonesia terhadap nasib Muslim di India mengedepankan diplomasi daripada anarki.”Kedepankan diplomasi dan jangan anarki,” kata Menag dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Minggu (8/3).Dia mengatakan mencegah kemungkaran adalah hal baik. Akan tetapi, kata dia, hal itu harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf atau baik agar tidak memunculkan kemungkaran yang lebih besar.

Muslim Indonesia sendiri telah menyuarakan kepeduliannya terhadap nasib umat Islam di India. Aspirasi itu telah disampaikan dalam banyak cara, mulai dari doa bersama, kecaman hingga unjuk rasa.Sejalan dengan itu, Menag minta agar umat Islam Indonesia tidak terprovokasi melakukan tindakan anarki dalam beragam bentuknya, termasuk sweeping.

“Ingat, anarkisme bukanlah nilai-nilai Indonesia dan juga bukan nilai-nilai Islam. Demikian juga aksi sepihak dalam bentuk sweeping. Masyarakat Indonesia dikenal dunia sebagai umat yang toleran, rukun dan cinta damai. Mari kedepankan jalur hukum dan komunikasi diplomatik agar ini bisa diselesaikan dengan baik,” katanya.

Aspirasi yang disuarakan Muslim Indonesia, kata dia, terus dikomunikasikan pemerintah melalui jalur diplomasi.Dia mengatakan komunikasi dilakukan dengan pihak kedutaan India di Indonesia maupun dengan pemerintah di India. Kontak terus dilakukan Indonesia untuk mencari solusi terbaik atas kehidupan beragama tanpa mencampuri urusan dalam negeri India.Menag mengapresiasi kepedulian dan perhatian Muslim Indonesia kepada umat Islam di India.

“Saya sangat mengapresiasi atas rasa keprihatinan dan kepedulian yang telah ditunjukkan. Kekerasan oknum, apalagi dengan mengatasnamakan agama tidak bisa dibenarkan, kapanpun dan di manapun,” katanya.Fachrul mengatakan tidak ada ajaran agama manapun yang membenarkan tindakan kekerasan, apapun motifnya. Memuliakan nilai kemanusiaan adalah esensi ajaran semua agama.

Menag meyakini, tindakan kekerasan oleh sekelompok umat Hindu di India tidak menggambarkan ajaran agama Hindu sendiri, melainkan akibat pemahaman ekstrem sebagian umat atas ajaran agamanya.Fachrul berharap para tokoh agama mengambil peran dalam mengarahkan umat dalam menyikapi persoalan ini sesuai nilai kedamaian, toleransi dan keadilan hukum.”Kita doakan para koran dan kita berharap kehidupan beragama di India kembali kondusif,” katanya.

Baca Juga :Liga Arab Tolak Rencana AS

Salah seorang orator dalam demonstrasi yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI), GNPF Ulama, dan Persaudaraan Alumni (PA) 212 di depan Kantor Kedutaan Besar India,Jalan HR Rasuna Said,Kuningan,Jakarta Selatan mengajak massa memboikot film India alias ‘bollywood’.Ajakan itu diserukan jika tidak ada niat baik dari Kedubes India dalam menyikapi sejumlah tuntutan mereka. Aksi ini dilakukan merespons bentrok umat Hindu dengan Islam di India. Salah satu tuntutan massa FPI cs adalah meminta pemerintah India menghentikan kekerasan terhadap umat Muslim.

Selain boikot film bollywood, ia juga mengajak massa memboikot berbagai produk buatan India di Indonesia.”Mulai hari ini jangan nonton film India. Kita boikot semua,” ujar orator dalam demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor Kedubes India, Jumat (6/3).Orator itu pun menuturkan orang India telah mengambil duit orang Islam dengan menjual film India. Ia memerintahkan peserta aksi yang memiliki kepingan compact disc (cd) film Bollywood untuk membawanya di aksi berikutnya buat dibakar secara bersama-sama.

“Yang punya VCD atau CD film India kalau ada aksi berikutnya dibawa kita bakar sama-sama,” ujarnya.Aksi demonstrasi tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Aksi itu membuat pihak kepolisian menutup akses Jalan HR Rasuna Said dari arah Mampang Prapatan menuju Menteng. Kendaraan roda dua maupun empat diarahkan menuju Jalan Denpasar Selatan.Di sela demo, Ketua PA 212, Slamet Maarif, bersama sejumlah perwakilan massa sempat bertemu dengan salah seorang staf Dubes India dan menyampaikan poin-poin yang menjadi tuntutan dalam aksi unjuk rasanya.

Liga Arab Tolak Rencana AS Liga Arab Tolak Rencana AS

alagagrh.net Donald Trump memberikan sebuah jadwal yang akan dilakukan bersama Liga Arab,tapi sayangnya Palestina menolaknya dan memutus semua hubungannya.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Liga Arab Tolak Rencana AS. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Liga Arab Tolak Rencana AS

Liga Arab menolak rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kontroversial terkait situasi di Timur Tengah-antara Israel dan Palestina. Kumpulan bangsa Arab itu menyatakan rencana Trump tidak memberikan keadilan bagi rakyat Palestina.Seperti dilansir AFP, lewat pertanyataan bersamanya, para pemimpin negara Arab juga bersumpah, “Tak akan … bekerja sama dengan administrasi AS untuk mengimplementasikan rencana ini.”Pertemuan Liga Arab itu digelar di Kairo, Mesir. Sejumlah perwakilan negara Arab yang hadir di antaranya dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Mereka menegaskan tetap berpegang pada solusi dua negara bahwa batas negara Palestina adalah sebelum Perang Enam Hari pada 1967-ketika Israel mencaplok Tepi Barat dan Gaza-dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.Sementara itu di tempat yang sama, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan pemotongan semua hubungan dengan Israel dan AS. Hal itu diputuskan menyikapi rencana kontroversial Trump.”Kami beritahu kepada Anda bahwa tak akan ada lagi hubungan dengan Anda (Israel) dan Amerika Serikat, termasuk kerja sama keamanan,” kata Abbas dalam pertemuan Liga Arab di Kairo, Mesir, Sabtu (1/2).

Abbas menegaskan rencana yang disampaikan Trump untuk perdamaian Timur Tengah itu justru melanggar kesepakatan Oslo pada 1993 silam antara Israel dan Palestina.Abbas menegaskan Palestina akan maju terus memperjuangkan hak lewat jalan yang sah dan secara damai.Sebelumnya, Trump melontarkan rencananya terkait kawasan Timur Tengah. Hal tersebut disampaikan Trump usai menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington DC, AS, Selasa (28/1).

Trump menyatakan Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota Israel sebagai bagian dari rencana perdamaian Timur Tengah. Sedangkan Palestina akan diberikan hak untuk mengelola Yerusalem Timur sebagai ibu kota jika diakui sebagai negara.”Yerusalem akan tetap milik Israel sebagai ibu kota dan tidak bisa dipisahkan,” kata Trump seperti dilansir CNN.Trump mengklaim usulnya menguntungkan Israel dan Palestina. Yakni dengan solusi dua negara yang menjadi jalan keluar untuk bangsa Palestina dan Israel.

“Rencana ini akan menambah wilayah Palestina sebanyak dua kali lipat, dan menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Amerika Serikat dengan bangga akan mendirikan kedutaan besar di sana,” ujar Trump.Trump sudah mengajukan usul peta perdamaian Israel-Palestina sejak 2017. Saat itu dia menyatakan Yerusalem adalah ibu kota Israel dan membuka kedutaan besar di sana. Akan tetapi, Presiden Palestina Mahmud Abbas tetap menolak usul tersebut.Trump juga menyatakan mengakui pendudukan Israel di wilayah Judea dan Samaria, Tepi Barat, serta Lembah Yordania.

Atas rencana Trump tersebut, selain Liga Arab, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pun mengecamnya. Pada Rabu (29/1) lalu, seperti dilansir CNN Turki, Erdogan menganggap rencana Trump itu dinilai lebih memihak Israel daripada Palestina itu ‘benar-benar tidak dapat diterima”. Menurut dia, rencana Trump tersebut tidak memberikan solusi apalagi perdamaian.