Muskim Kazakh Di Tahan Di Xinjiang Muskim Kazakh Di Tahan Di Xinjiang

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Muskim Kazakh Di Tahan Di Xinjiang. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Muskim Kazakh Di Tahan Di Xinjiang

Orang-orang yang keluar dari kamp tersebut menyatakan mereka mengalami penyiksaan selama di sana.Kebayakan dari anggota etnis Kazakh ini tinggal di perbatasan dengan China, dan mereka menjadi pelintas batas selama berabad-abad.Namun belakangan pemerintah China menangkapi para pelintas batas Kazakh ini dan membawa mereka untuk menjalani re-edukasi di berbagai kamp yang ada di Provinsi Xinjiang.Seorang di antaranya mengatakan, di kamp penahanan, aparat “memaksanya menjadi orang China”.

“Mereka memaksa saya meninggalkan identitas. Tapi identitas saya tidak berubah. Saya tetap memegang iman. Saya tetap seorang Muslim, seorang Kazakh,” katanya.Para saksi mata yang keluar dari kamp itu menyatakan, di depan ‘sekolah’ tersebut ada tulisan ‘sekolah kejuruan’ dalam bahasa China dan Uyghur.Pemerintah China menyatakan sekolah-sekolah itu adalah sekolah kejuruan yang ditujukan memberi pelatihan, dan para pelajar masuk ke dalamnya secara sukarela.Namun seorang Muslim Kazakh bernama Orinbeck yang pernah ditahan di sekolah itu selama empat bulan menceritakan pengalamannya.”Saya harus mempelajari kebijakan-kebijakan pemerintah China, saya harus belajar bahasa dan sejarah China,” katanya.

“Kami juga harus melupakan bahasa Kazakh. Kata mereka, kalau saya tidak belajar lagu-lagu dan aksara China, maka saya tak boleh meninggalkan tempat itu,” kata Orinbeck lagi.Seorang perempuan Kazakh, Gulzira, pernah ditahan di sana selama 15 bulan.”Itu bukan sekolah. Itu penjara,” katanya. Gulzira juga mengaku bahwa ia diberi suntikan sesudah tinggal di kamp itu selama tiga bulan.Ia tidak pernah tahu untuk apa suntikan itu. “Kalau menolak, mereka akan dikirim ke kamp yang lebih keras lagi,” katanya.Penyiksaan juga kerap terjadi di dalam kamp tahanan tersebut.

Tursinbeck mengaku disiksa selama berada di sana. Katanya, ia dibawa ke ruang bawah tanah yang disebut ‘zindan’ di mana kantungnya diperiksa.Arloji dan ikat pinggangnya kemudian disita, tanpa ia tahu mengapa.Ia kemudian dibawa ke ruang bawah tanah, sedalam 20 meter dari permukaan tanah.”Saya dipukul di bagian telinga,” katanya. “Sehingga saya kehilangan keseimbangan.”

Penyintas lain bernama Orinbeck juga mengaku disiksa.”Saya diikuti ke toilet. Kalau saya mencuci tangan dan muka (untuk berwudu) mereka akan membentak saya: mengapa kamu minum air!” kata Orinbeck. “Lalu mereka akan memukul saya”.Orinbeck mengaku ia sering disuruh membuka baju sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.”Lalu mereka akan menyiram saya dengan air. Bahkan saya tak tahu itu air atau apa”.Selama tiga bulan Orinbeck diperlakukan seperti itu, ia merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya.

Kedutaan Besar China di London menyatakan kepada BBC bahwa penyiksaan semacam itu adalah ‘desas-desus semata’. Mereka juga mengatakan seluruh ‘peserta pelatihan’ telah dilepaskan dari sekolah tersebut.Menurut pemerintah China, para lulusan sekolah ini telah memperoleh ‘dukungan’ untuk mendapat pekerjaan.Namun orang-orang yang berhasil selamat dari kamp menyatakan bahwa pekerjaan itu adalah ‘kerja paksa’.”Ketika saya dilepaskan, saya harus melapor kepada polisi,” kata Turinbeck, salah seorang penyintas.

Baca Juga :Pelanggaran HAM Oleh Muslim Rohingya Di Myanmar

“Saya diberi topi polisi, pentungan dan rompi anti peluru. Lalu kami harus berpatroli menjaga lingkungan dari pukul 7 pagi hingga 10 malam. Selama itu kami tidak diberi makanan atau upah,” tambahnya.Gulzira juga menceritakan soal kerja paksa itu. Ia dipaksa untuk bekerja di pabrik untuk menjahit sarung tangan. Ke manapun ia pergi, ia harus melapor kepada polisi desa.”Jika tidak, mereka akan menuduh saya anti pemerintah. Dengan alasan itu, saya bisa dibawa kembali ke kamp,” katanya.Sekalipun sudah dibebaskan, tetapi hingga saat ini, ratusan Muslim Kazakh belum kembali ke rumah mereka.

Seorang perempuan Kazakh, Gulnur, mengaku suaminya ditahan di kamp itu sejak Oktober 2017.Gulnur mengatakan suaminya ditahan karena, “di telepon genggamnya ditemukan aplikasi WhatsApp”.Suami Gulnur kini sudah kembali ke rumah, tetapi ia dikenakan tahanan rumah.Dibantu oleh kelompok hak asasi manusia Atajurt, Muslim Kazakh kini melancarkan kampanye untuk mencari anggota-anggota keluarga mereka yang masih hilang.

Mereka mengedarkan video secara daring untuk membuat dunia sadar apa yang terjadi dengan etnis Kazakh yang tinggal di perbatasan dengan China.Gulzira merasa bersyukur bisa keluar dari kamp tersebut.”Mereka memaksa saya untuk menjadi orang China, mereka memaksa saya meninggalkan identitas. Tapi identitas saya tidak berubah. Saya tetap memegang iman. Saya tetap seorang Muslim, seorang Kazakh,” katanya.”Saya bangga menjadi Kazakh. Allah telah menyelamatkan saya”.

Pelanggaran HAM Oleh Muslim Rohingya Di Myanmar Pelanggaran HAM Oleh Muslim Rohingya Di Myanmar

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Pelanggaran HAM Oleh Muslim Rohingya Di Myanmar. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Pelanggaran HAM Oleh Muslim Rohingya Di Myanmar

Resolusi itu juga menyerukan agar Myanmar menghentikan hasutan kebencian terhadap minoritas Rohingya dan kelompok minoritas lainnya.Ribuan orang Rohingya terbunuh dan lebih dari 700.000 orang melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh saat terjadi aksi penumpasan oleh militer di negara yang penduduknya beragama Buddha itu pada 2017.Myanmar (sebelumnya disebut Burma) menolak tuduhan itu dan menegaskan bahwa langkah militer itu untuk mengatasi ancaman ekstremisme.Resolusi PBB yang disahkan pada Jumat (27/12) menyatakan kekhawatiran atas berlanjutnya membanjirnya orang-orang Rohingya ke Bangladesh yang disebut “sebagai akibat kekejaman pasukan keamanan dan bersenjata Myanmar”.

Laporan itu menyoroti berbagai temuan misi internasional independen yang mengungkap adanya “pelanggaran HAM berat dan pelanggaran yang diderita Muslim Rohingya dan minoritas lainnya” oleh pasukan keamanan Myanmar, yang digambarkan sebagai “kejahatan paling berat di bawah hukum internasional”.Resolusi itu menyerukan Myanmar agar melindungi semua kelompok dan menjamin keadilan bagi semua korban pelanggaran hak asasi manusia.Resolusi PBB ini disahkan oleh total 134 negara dari 193 negara anggota, sembilan suara menentang dan 28 lainnya abstain.Resolusi Majelis Umum PBB tidak mengikat secara hukum tetapi dapat mencerminkan pendapat dunia.

Duta Besar PBB untuk Myanmar, Hau Do Suan, menyebut resolusi itu “contoh klasik standar ganda [dan] penerapan norma HAM yang selektif dan diskriminatif”.Dia mengatakan itu dirancang untuk mengerahkan “tekanan politik yang tidak diinginkan” pada Myanmar dan tidak berusaha menemukan solusi untuk “situasi rumit di negara bagian Rakhine”.Gambia, sebuah negara kecil di Afrika barat yang mayoritas penduduknya Muslim, membawa kasus Rohingya ke ICJ atas nama puluhan negara Muslim lainnya.

Berbicara di pengadilan awal bulan ini, peraih Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi menyebut kasus terhadap Myanmar “tidak lengkap dan tidak benar”. Dia mengatakan masalah di Rakhine, di mana banyak Rohingya tinggal, sudah terjadi sejak berabad-abad lalu.Suu Kyi mengatakan kekerasan yang terjadi sebagai “konflik bersenjata internal” yang dipicu oleh serangan gerilyawan Rohingya atas pos-pos keamanan pemerintah.Dia mengakui bahwa militer Myanmar mungkin menggunakan kekuatan yang tidak proporsional pada waktu itu, tetapi mengatakan bahwa jika tentara melakukan kejahatan perang, “mereka akan dituntut”.

Apa tuduhannya?
Pada awal 2017, ada satu juta orang Rohingya di Myanmar, sebagian besar tinggal di negara bagian Rakhine. Myanmar, negara yang sebagian besar penduduknya beragama Buddha, menganggap Rohingya adalah imigran ilegal dan menyangkal kewarganegaraan mereka.Warga Rohingya telah lama mengeluhkan adanya penganiayaan, dan pada 2017, militer Myanmar – Tatmadaw – meluncurkan operasi militer besar-besaran di Rakhine.

Menurut tuduhan yang diajukan oleh Gambia kepada ICJ, militer Myanmar telah melakukan “operasi pembersihan yang luas dan sistematis” terhadap Rohingya, mulai Oktober 2016 dan berlanjut hingga Agustus 2017.Petisi Gambia menuduh bahwa pembersihan ini “dimaksudkan untuk menghancurkan Rohingya sebagai kelompok, seluruhnya maupun sebagian”, melalui pembunuhan massal, pemerkosaan dan pembakaran terhadap bangunan mereka “sering kali dengan penghuninya dikunci di dalam”.

Misi pencari fakta PBB yang menyelidiki tuduhan ini menemukan bukti menarik yang menyatakan bahwa tentara Myanmar harus diselidiki untuk tuduhan genosida terhadap Muslim Rohingya di Rakhine.Bulan Agustus, sebuah laporan menuduh tentara Myanmar “secara rutin dan sistematis melakukan pemerkosaan massal dan berbagai tindakan seksual dengan kekerasaan dan paksaan terhadap perempuan, anak-anak dan orang-orang transgender”.Bulan Mei, tujuh orang tentara Myanmar yang dipenjara karena membunuh 10 orang Rohingya dibebaskan lebih awal dari penjara. Myanmar mengatakan operasi militer mereka mengarah pada kelompok militan Rohingya dan militer telah menyatakan mereka tidak bersalah.

Baca Juga : Ketakutan Muslim Di Uttar Pradesh

Ratusan ribu minoritas Rohingya meninggalkan Myanmar sejak operasi militer dimulai.Wartawan BBC, Jonathan Head mengunjungi kamp sementara Hla Poe Kaung, yang didirikan di desa Rohingya yang telah dihancurkan.Pada tanggal 30 September, terdapat 915.000 pengungsi Rohingya di kamp-kamp di Bangladesh.Hampir 80% dari mereka tiba antara Agustus dan Desember 2017, serta bulan Maret tahun ini. Bangladesh menyatakan tak akan menerima lagi pengungsi baru.

Bulan Agustus, Bangladesh membentuk skema repatriasi sukarela – tetapi tak ada satupun orang Rohingya yang mau menjalaninya.Bangladesh berencana merelokasi 100.000 pengungsi ke Bhasan Char, sebuah pulau kecil di Teluk Bengala, tetapi ide ini ditentang oleh 39 lembaga pemberi bantuan dan kelompok perlindungan hak asasi manusia.Bulan September, wartawan BBC Jonathan Head melaporkan bahwa barak polisi, bangunan pemerinah dan kamp relokasi pengungsi telah dibangun di lokasi bekas desa-desa minoritas Rohingya di Myanmar.

Ketakutan Muslim Di Uttar Pradesh Ketakutan Muslim Di Uttar Pradesh

alagagrh.net Salah satu negara bagian termiskin yang paling mengerikan di India membawa kesan ngeri untuk mereka para Muslim di India. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Ketakutan Muslim Di Uttar Pradesh. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Ketakutan Muslim Di Uttar Pradesh

Setidaknya 19 orang meninggal sejak protes mulai terjadi pada tanggal 20 Desember.Wartawan BBC Vikay Pandey mengunjungi daerah tersebut dan menyampaikan laporan berikut.Gang sangat sempit Babupurwa, kota Kanpur membawa Pandey ke rumah Mohammed Shareef.

Dia sedang duduk di luar rumah kecil beratap seng. Hanya terdapat satu kamar di dalamnya yang berfungsi sebagai dapur pada siang hari dan menjadi kamar tidur saat malam hari.Dia bangkit, memeluk saya dan kemudian tidak lagi bisa menahan diri. Beberapa menit kemudian kami terdiam.”Saya kehilangan semuanya. Saya sudah tidak ingin hidup. Apa kesalahan anak laki-laki saya? Mengapa polisi menembaknya?” katanya sambil berusaha enahan tangis.Anak laki-lakinya, Muhammad Raees, 30 tahun, meninggal dunia pada tanggal 23 Desember – tiga hari setelah dirinya ditembak di bagian perut.

“Anak laki-laki saya bahkan tidak memprotes. Dia pedagang pinggir jalan dan hanya kebetulan berada di tempat unjuk rasa. Tetapi bahkan jika dia berunjuk rasa, apakah dia layak meninggal? “Apakah dia meninggal karena kami Muslim? Bukankah kami warga negara negara ini? Saya akan terus menanyakan hal ini sampai saya meninggal,” katanya.Unjuk rasa di mana Muhammad Raees ditembak adalah satu dari puluhan demonstrasi menentang Amendemen Undang Undang Kewarganegaraan (CAA) di Uttar Pradesh, salah satu negara bagian termiskin India.

Paling tidak 50 petugas terluka pada sejumlah bentrokan di Uttar Pradesh saja – tetapi polisi juga dituduh menggunakan kekuatan berlebihan saat menangani pengunjuk rasa anti-CAA.Kelompok hak asasi manusia mengatakan undang-undang kewarganegaraan baru yang memberikan amnesti kepada imigran bukan Muslim dari Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan tersebut diskriminatif terhadap Muslim.Tetapi pemerintah menyatakan UU tersebut akan melindungi kelompok minoritas keagamaan yang melarikan diri dari persekusi.

Perdana Menteri Narendra Modi dan Menteri Dalam Negeri Amit Shah menegaskan peraturan tersebut tidaklah merugikan Muslim.Tetapi protes, terutama di Uttar Pradesh tempat tinggal lebih dari 40 juta Muslim, terus berlanjut.Menteri Senior Yogi Adityanath mengatakan “balas dendam” akan dilakukan terhadap pihak-pihak yang merusak sarana umum.”Properti akan disita untuk menggantikan sarana umum yang rusak,” katanya.Polisi mematuhi perintahnya dan mengidentifikasi orang-orang “yang dicari”, sebagian besar Muslim, dan menyebarkan poster mereka di Kanpur.Hal ini membuat masyarakat ketakutan.

Di Babupurwa, BBC bertemu beberapa perempuan yang anak laki-lakinya, ada yang baru berumur 10 tahun, memutuskan untuk pindah ke kota-kota lain karena khawatir ditangkap dan disiksa.Ketakutan tersebut semakin meningkat karena adanya National Register of Citizens (NRC) atau Pendaftaran Warganegara Nasional.”NRC mewajibkan penduduk untuk membuktikan bahwa mereka memang warganegara India,” kata Nassiruddin, politikus dan pemimpin masyarakat Muslim di Kanpur.

“Bayangkan jika sebuah keluarga Hindu dan Muslim tidak dapat membuktikan kewarganegaraannya – warga Hindu dapat menggunakan CAA untuk memastikan kewarganegaraannya, sementara Muslim akan dicabut kewarganegaraannya.”Pemerintah menyatakan belum berencana melakukan NRC dalam waktu dekat, tetapi masyarakat tetap khawatir bahwa mereka tidak dapat memberikan dokumen yang diperlukan untuk membuktikan kewarganegaraannya.Nassiruddin menambahkan Muslim di negara bagiannya juga ketakutan karena mereka tidak mempercayai partai Hindu yang berkuasa Bharatiya Janata Party (BJP).

“Apa kesalahan kami? Kita adalah sebuah demokrasi dan kita berhak untuk memprotes sesuatu yang tidak kami sepakati. Tetapi pelindung kami telah menjadi pemangsa. Kami harus kemana sekarang?” kata seorang perempuan.Ketakutan masyarakat Muslim semakin meningkat karena pernyataan anti-Muslim Yogi Adityanath, termasuk dukungan larangan perjalanan bagi Muslim, menuduh pria Muslim memaksa perempuan Hindu menjadi Islam dan membandingkan bintang Bollywood Shah Rukh Khan dengan milisi di Pakistan, Hafiz Saeed.Banyak pihak meyakini menteri senior hanya mengikuti pemikiran Modi terkait dengan “nasionalisme Hindu”.

Ribuan orang, sebagian besar pria Muslim ditangkap dan layanan internet ditutup selama beberapa hari.Banyak pegiat berpengaruh ditahan.Polisi juga dituduh mengintimidasi Muslim. Rekaman video dari Kanpur memperlihatkan polisi “merusak” mobil dan rumah daerah yang sebagian besar penduduknya Muslim.Kejadian serupa dilaporkan juga terjadi di bagian lain negara bagian itu.Tetapi pejabat polisi yang bertanggung jawab atas hukum dan keteraturan menyangkal tuduhan tersebut.

Baca Juga :Muslim Rohingya Di Myanmar Di Genosida

PV Ramasastry mengatakan kepada BBC bahwa pihak-pihak yang melakukan pengrusakan sarana umum telah ditangkap dan diidentifikasi berdasarkan “bukti digital”.Ketika saya menanyakan mengapa polisi begitu cepat menindak pengunjuk rasa berdasarkan video, tetapi tidak menindak para anggotanya sendiri, dia mengatakan siapapun “bebas menuduh”.Tetapi pegiat masyarakat Sumaiya Rana mengatakan polisi harus dimintai pertanggungjawabannya.”Kekerasan bukanlah jawaban, dan hal ini berlaku bagi ke dua belah pihak. Polisi seharusnya menindak pihak-pihak yang melakukan kekerasan, tetapi apakah menembak para pengunjuk rasa memang cara satu-satunya?” katanya.

Sementara itu sejumlah partai politik saling menyalahkan terkait berbagai protes ini.BJP menyatakan protes menjadi diwarnai kekerasan karena “anak muda Muslim dibawa ke arah yang salah oleh partai-partai oposisi”. “Kami memelihara hukum dan keteraturan dengan baik sejak mulai berkuasa tiga tahun lalu. Tetapi saat ini kekerasan terjadi karena politik. Samajwadi Party (SP) dan Bahujan Samaj Party membuat warga kebingungan terkait dengan CAA. Mereka merencanakan dan memicu berbagai protes,” kata Swatantra Dev Singh, kata pimpinan BJP di negara bagian itu kepada BBC.

Akhilesh Yadav, mantan menteri senior dan pimpinan Samajwadi Party menyangkal berbagai tuduhan.”Pemerintah perlu menjawab siapa yang menembak orang-orang ini? Mengapa polisi tidak mencegah?” Anggota masyarakat sipil mengatakan semua pihak sibuk saling menyalahkan tetapi tidak seorangpun bersedia memberikan jawaban.”Kenyataannya adalah 19 orang meninggal di salah satu negara bagian terbesar India. Seseorang harus menjawab pertanyaan keluarga mereka. Kita adalah sebuah demokrasi dan protes tidak bisa dibayar dengan kematian,” kata pegiat masyarakat Sumaiya Rana.

Muslim Rohingya Di Myanmar Di Genosida Muslim Rohingya Di Myanmar Di Genosida

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Muslim Rohingya Di Myanmar Di Genosida. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Muslim Rohingya Di Myanmar Di Genosida

Mahkamah Internasional, International Court of Justice, ICJ, di Den Haag, Belanda, memerintahkan Myanmar mengambil langkah-langkah untuk mencegah genosida terhadap minoritas Muslim Rohingya dan menolak argumen Aung San Suu Kyi.”Kejahatan perang mungkin dilakukan terhadap Muslim Rohingya”

Keputusan itu diambil Kamis (23/01) walaupun pemimpin de facto Myanmar, Aun San Suu Kyi membela negaranya dengan menolak secara langsung tuduhan itu pada bulan lalu.Ribuan orang Rohingya tewas dan lebih dari 700.000 orang melarikan diri ke Bangladesh selama aksi penumpasan oleh tentara Myanmar pada 2017.Para penyelidik PBB telah memperingatkan bahwa tindakan genosida Muslim dapat terulang kembali.

Sidang Mahkamah Internasional atas kasus Rohingya, yang diajukan oleh negara Gambia, negara di Afrika yang warganya mayoritas Muslim, menyerukan tindakan darurat terhadap militer Myanmar sampai investigasi yang lebih lengkap diluncurkan.Menteri Kehakiman Gambia Abubacarr Tambadou yang menyampaikan kasus di ICJ bulan Desember lalu, mengatakan kepada BBC bahwa apa yang terjadi di lapangan lebih parah dari yang terlihat di tayangan televisi.

“Militer dan warga sipil mengorganisir serangan sistematis terhadap Rohingya, membakar rumah-rumah, menculik bayi-bayi dari gendongan para ibu dan melempar mereka ke bara api, mengumpulkan dan mengeksekusi para pria, perempuan diperkosa beramai-ramai dan melakukan semua bentuk kekerasan seksual,” kata Abubacarr.Myanmar selalu bersikeras bahwa tindakan itu dilakukan untuk menangani ancaman ekstremisme di negara bagian Rakhine.Dalam pernyataan pembelaannya, Suu Kyi menggambarkan kekerasan itu sebagai “konflik bersenjata internal” yang dipicu oleh serangan gerilyawan Rohingya di pos-pos keamanan pemerintah.

Baca Juga :Ketua Komisi Kesetaraan Ras Di Inggris Dituduh Benci Islam

Namun dalam rubrik opini yang diterbitkan Financial Times, Suu Kyi mengatakan Kamis (23/01) bahwa “kejahatan perang” mungkin telah dilakukan terhadap Muslim Rohingya namun menyanggah terjadinya genosida.Suu Kyi mengatakan para pengungsi “membesar-besarkan” pelanggaran yang terjadi terhadap mereka.Ia juga mengatakan negara itu juga dapat menghukum para pelaku kekerasan melalui mekanisme dalam negeri negara itu.

Panel hakim yang terdiri dari 17 orang mengambil keputusan ini dengan suara bulat dan memerintahkan Myanmar “mengambil semua langkah berdasarkan kewenangan” untuk mencegah genosida.Keputusan ICJ ini mengikat namun mahkamah tidak memiliki perangkat untuk menerapkan putusan ini.Namun wartawan BBC, Anna Holligan, yang berada di Den Haag mengatakan kehadiran Aung San Suu Kyi pada Desember lalu pada dasarnya mengakui legitimasi mahkamah dan saat ini akan sulit bagi Myanmar untuk mengabaikan putusan itu.

Ketua Komisi Kesetaraan Ras Di Inggris Dituduh Benci Islam Ketua Komisi Kesetaraan Ras Di Inggris Dituduh Benci Islam

alagagrh.net Trevor Phillips yaitu ketua komisi kesetaraan ras di Inggris dituduh membenci islam,dan sedang dilakukan penyelidikan. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Ketua Komisi Kesetaraan Ras Di Inggris Dituduh Benci Islam. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Ketua Komisi Kesetaraan Ras Di Inggris Dituduh Benci Islam

Menurut surat kabar The Times, Partai Buruh saat ini sedang menyelidiki masalah tersebut, yang antara lain mencakup pernyataan Phillips tentang kasus serangan seksual oleh laki-laki Pakistan di Inggris utara.Yang juga sedang ditangani, kata The Times, antara lain adalah komentar Phillips tentang warga Muslim yang enggan memakai simbol penghormatan saat dilangsungkan hari pahlawan di Inggris.Pernyataan Phillips bahwa ada warga Muslim yang bersimpati dengan pelaku serangan di kantor majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, seperti diungkap oleh satu jajak pendapat, juga diselidiki oleh Partai Buruh.Juru bicara Partai Buruh mengatakan mereka menyelidiki kasus Phillips ini “dengan sangat serius”. Ditambahkan, Phillips perlu diskors untuk “melindungi kredibilitas partai”, sementara kasusnya tengah diselidiki.

Jika dinyatakan bersalah, Phillips bisa dipecat sebagai anggota partai.Menanggapi langkah ini, Phillips mengatakan bahwa partai telah bertindak “otoriter”.Skors yang dialami Phillips ramai menjadi perbincangan warga dan namanya menjadi salah satu topik yang populer di Twitter pada hari Senin (09/03).Hingga menjelang Senin siang, setidaknya terdapat 16.000 cuitan tentang Phillips, menurut data Spredfast, perangkat lunak yang melacak pembicaraan warga net di Twitter.

Dalam wawancara dengan acara Today di BBC Radio 4, Phillips kembali menegaskan pernyataannya bahwa orang-orang Islam itu “berbeda”.”Memang demikian keadaannya. Poinnya adalah, orang-orang Islam itu berbeda dalam banyak hal dan itu adalah sesuatu yang layak dikagumi,” kata Phillips.”Pahlawan saya adalah Muhammad Ali. Sebelumnya adalah Malcolm X,” imbuhnya.

Baca Juga :Konflik Hindu Muslim Di India

Ia mengecam tindakan Partai Buruh yang menyelidiki kasus dugaan kebencian terhadap Islam ini dengan menggambarkan partai “tidak demokratis karena tidak membuka ruang terhadap perdebatan yang sehat”.Ia juga menyinggung soal keputusan Partai Buruh yang mengadopsi definisi Islamofobia yang diambil oleh kelompok anggota parlemen Inggris lintas partai.Phillips mengatakan bahwa definisi Islamofobia tersebut “tidak masuk akal karena Muslim bukan ras”.

“Muslim itu bukan ras … mereka menjadi Muslim karena keyakinan agama. Ini bukan pengelompokan berdasarkan ras, jadi menggambarkan kekerasan terhadap Muslim sebagai kekerasan rasisme tak bisa diterima,” katanya.Phillips lahir di London dari orang tua asal Guyana yang pindah ke Inggris pada 1950.Ia dikenal sebagai penulis sebagai menjadi politisi dengan bergabung ke Partai Buruh.Ia membuat sejumlah film dokumenter tentang ras dan multikulturalisme.

Phillips ikut mendirikan Komisi Kesetaraan Ras pada 2003 dan menjadi ketua ketika organisasi ini berganti nama menjadi Komisi Kesetaraan dan Hak Asasi Manusia (EHRC) pada 2006.EHRC saat ini tengah menyelidiki dugaan antisemitisme di Partai Buruh.Ia tercatat sebagai satu dari 24 tokoh publik yang menulis surat terbuka, yang dimuat di harian The Guardian, yang menyatakan menolak mencoblos Partai Buruh karena partai ini dinilai membenci kaum Yahudi.

Konflik Hindu Muslim Di India Konflik Hindu Muslim Di India

alagagrh.net Akibat dari bentroknya agama di Delhi,menyebabkan banyak memakan korban,Konflik Hindu Muslim Di IndiaPada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Konflik Hindu Muslim Di India. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Konflik Hindu Muslim Di India

Bentrokan terjadi pada Minggu antara kelompok yang menentang dan setuju undang-undang kewarganegaraan yang oleh kritikus disebut meminggirkan Muslim.Regulasi itu memperbolehkan warga non-Muslim asal Bangladesh, Pakistan dan Afghanistan yang masuk ke India secara ilegal, untuk menjadi warga negaranya.Pemerintah India yang kini dikuasai oleh partai Nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP), mengatakan undang-undang ini akan memberi perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri dari persekusi agama.RUU ini memicu aksi protes sejak diloloskan tahun lalu, beberapa di antaranya berujung bentrok.Mutasi seorang hakim yang ‘vokal’ terhadap aksi kekerasan di Delhi telah menimbulkan kekhawatiran baru di India, ketika para politisi dikecam karena dianggap tidak berbuat apa-apa.

Hakim S. Muralidhar, yang sebelumnya mendengarkan petisi terhadap kerusuhan berbasis agama telah mengutuk pemerintah dan polisi, Rabu (26/02). Setelah kritik ini dilontarkan, malam harinya Hakim Muralidhar dimutasi.Sampai Kamis (27/02), lebih dari 30 orang tewas dalam aksi kerusuhan ini.Kerusuhan prtama terjadi pada Ahad (23/02) antara kelompok pendukung dan kontra terhadap Undang Undang Kewarganegaraan di timur Delhi.Sejak saat itu kelompok yang bertikai mengambil posisi secara komunal, dengan melaporkan banyak warga Muslim di India yang diserang.

Meskipun kekerasan mulai berkurang pada Rabu kemarin, terdapat laporan kekerasan yang terjadi secara sporadis di wilayah rawan hingga malam dan situasi tetap tegang.Pada Kamis ini, fokus isu telah berganti terhadap mutasi Hakim Muralidhar dari pengadilan tinggi. Mutasinya pertama kali diumumkan dua pekan sebelum kekerasan meletus. Akan tetapi koresponden BBC mengatakan, komentar hakim di pengadilan itu yang telah mempercepat mutasi tersebut.Saat mendengarkan petisi tentang kekerasan, Hakim Muralidhar mengatakan bahwa pengadilan tak dapat membiarkan peristiwa “1984 lain” terjadi kembali. Pada 1984, lebih dari 3.000 orang Sikh terbunuh dalam kerusuhan melawan komunitas di Delhi.

Saat mendengarkan petisi, sejumlah video diputar, memperlihatkan para pimpinan dari Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India telah menghasut kelompok Hindu terhadap sebagian besar pendemo dari kalangan Muslim.Hakim Muralidhar kemudian meminta kepolisian menerima pengaduan dan melaporkan pada pemerintah untuk memastikan bahwa tiap korban dipindahkan dan diberikan tempat tinggal sementara disertai perawatan medis.Komentarnya telah menjadi halaman muka pada Rabu (26/02), dengan banyak pujian atas “sikap berani”-nya.Berita tentang mutasinya telah membuat masyarakat India prihatin dan marah.Tapi pemerintah menyatakan, mutasi tersebut dilakukan atas persetujuan hakim diikuti dengan “proses yang baik”.

Sejauh ini Hakim Muralidhar belum berkomentar lagi.Menanggapi kemarahan dari publik, Menteri Hukum, Ravi Shankar Prasad melalui twitternya mengatakan mutasi hanya “transfer rutin”.Kerusuhan terjadi di tiga area yang mayoritas ditinggali oleh Muslim, sekitar 18 km dari ibu kota Delhi, pada Minggu (23/02).Sebuah kelompok yang mendukung RUU ini memprotes blokade yang dilakukan oleh mereka yang menentang RUU ini.Tak lama, aksi pelemparan batu terjadi.

Pemimpin BJP, Kapil Mishra, dituding terlibat dalan kerusuhan itu, karena sebelumnya mengancam kelompok yang menentang RUU tersebut, menyebut mereka akan diusir secara paksa begitu Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan India.Presiden AS melakukan kunjungan resmi pertamanya ke negara itu dari 24 hingga 26 Februari.Meskipun belum ada laporan bentrokan baru pada hari Rabu (26/02), kota ini terus tetap gelisah setelah kerusuhan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut.Kerusuhan yang terjadi, bukan lagi tentang hukum kewarganegaraan baru.

Media setempat mengatakan kekerasan itu berubah menjadi sektarian, dengan laporan orang diserang berdasarkan agama mereka.Ada laporan sekelompok pria dengan tongkat, batang besi dan batu berkeliaran di jalan-jalan dan orang-orang Hindu dan Muslim saling berhadapan.Jalan utama di lingkungan ini berantakan, kata wartawan BBC yang berada di lokasi kejadian.Jalanan dipenuhi dengan batu dan pecahan kaca, kendaraan yang rusak dan terbakar berserakan, dan bau asap dari bangunan yang membara memenuhi udara, kata wartawan BBC dari India, Faisal Mohammed.

Ada juga laporan tentang rumah-rumah dan toko-toko Muslim yang menjadi sasaran gerombolan perusuh.Wartawan BBC dari India, Faisal Mohammed, mengatakan dia melihat sebuah masjid yang terbakar sebagian, dengan halaman-halaman dari Alquran tergeletak di tanah.Masjid lainnya dirusak pada Selasa siang. Sebuah rekaman yang tersebar di media sosial menunjukkan seorang pria berusaha mencoba melepas bulan sabit dari atas menara masjid.

Baca Juga :Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

Setidaknya 200 orang menjadi korban dalam kerusuhan itu, baik dari warga Muslim maupun Hindu.Wartawan BBC mengatakan mereka melihat orang dengan segala macam cedera di rumah sakit, termasuk luka tembak, berebut untuk perawatan.Mereka mengatakan rumah sakit itu tampak “kewalahan”, dan banyak dari mereka yang terluka “terlalu takut untuk pulang ke rumah”.Saksi mata mengatakan beberapa anggota gerombolan itu membawa senjata dan ada laporan tentang tembakan yang ditembakkan dari atap rumah.

Petugas rumah sakit juga mengkonfirmasi bahwa banyak dari yang terluka mengalami luka tembak.Juru bicara kepolisian Delhi, MS Randhawa, mengatakan kepara wartawan pada Selasa bahwa situasi sudah bisa dikendalikan dan “sejumlah aparat polisi” sudah dikerahkan. Demikian halnya dengan pasukan paramiliter.Kendati begitu, polisi dituding tidak siap dan kalah jumlah dalam menghadapi kerusuhan itu. Sejumlah 50 aparat polisi terluka dan setidaknya satu di antara mereka terbunuh.

Kepolisian ibukota melapor langsung kepada pemerintah yang dipimpin Mr Bharatiya Janata Party (BJP) yang berkuasa, alih-alih ke administrasi negara.Jajaran kabinet India akan bertemu hari ini untuk membahas kerusuhan di ibukota.Area kerusuhan berdekatan dengan perbatasan Delhi dan negara bagian Uttar Pradesh yang kini sudah ditutup.Sekolah-sekolah di area itu juga diliburkan dan acara publik di beberapa area tidak diperbolehkan.Pihak berwenang mendesak publik untuk menjaga perdamaian.

“Adalah penting bahwa ada ketenangan dan keadaan normal dipulihkan paling cepat,” ujar Perdana Menteri Narendra Modi dalam cuitannya di Twitte pada hari Rabu, tiga hari setelah kerusuhan pecah.Sejak Narendra Modi berkuasa pada 2014, nasionalisme Hindu sayap kanan mulai bangkit di India.Modi bahkan menjadikannya landasan kampanye dalam pemilihan umum 2019 lalu.Momen kerusuhan terjadi yang bertepatan dengan kunjungan Presiden Trump dianggap memalukan baginya.Ketika kerusuhan meningkat, itu menaungi kunjungan Trump, dan menjadikannya sebagai berita utama nasionald an global.

Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Muslim Uighur Jadi Buruh Kerja Paksa

Australian Strategic Policy Institute (ASPI) mengatakan hal ini merupakan fase baru dalam program re-edukasi terhadap Muslim Uighur.China menahan sekitar satu juga Muslim Uighur di kamp tahanan, menghukum serta mengindoktrinasi mereka.Secara resmi, kamp-kamp ini disebutkan punya tujuan untuk melawan ekstremisme.Laporan ASPI diterbitkan sesudah pejabat senior China menyatakan kepada wartawan bulan Desember tahun lalu bahwa anggota kelompok minoritas dalam kamp telah “lulus”.

Apa kata laporan itu?
ASPI memperkirakan antara 2017 dan 2019 ada lebih dari 80.000 etnik Uighur dipindahkan dari wilayah otonomi Xinjiang untuk bekerja di pabrik-pabrik di seluruh China.Menurut laporan itu, beberapa dari mereka langsung di kirim dari kamp tahanan.Menurut ASPI warga Uighur dipidahkan melalui skema transfer buruh yang dijalankan oleh pemerintah pusat, bernama Xinjiang Aid.

Menurut laporan tersebut, pabrik-pabrik tersebut merupakan bagian dari rantai pasok dari 83 merek global terkenal termasuk Nike, Apple dan Dell.Laporan ini mengatakan “sangat sulit” bagi Muslim Uighur untuk menolak atau melarikan diri dari penugasan kerja ini, karena adanya ancaman “penahanan semena-mena” yang menghantui mereka.Laporan ini menambahkan adanya bukti bahwa pemerintah lokal dan perantara privat “dibayar per kepala” oleh pemerintah Xinjiang untuk mengatur penugasan, yang disebut ASPI sebagai “fase baru represi terus menerus dari pemerintah China” terhadap Muslim Uighur.

“Laporan kami memperjelas bahwa perampasan yang terjadi pada Muslim Uighur dan etnis minoritas lain di Xinjiang punya ciri yang jelas sebagai eksploitasi ekonomi,” kata salah satu penulis laporan Nathan Ruser kepada BBC.”Kami berhasil mengungkap hal ini dari rantai pasokan global yang selama ini tersembunyi”.Laporan mengenai kamp tahanan di Xinjiang ini pertamakali muncul tahun 2018.Pihak berwenang China megnatakan itu merupakan “pusat pelatihan keterampilan” yang dipakai untuk melawan ekstremis keagamaan.

Namun bukti-bukti memperlihatkan banyak orang yang ditahan karena memperlihatkan agama dan keyakinan mereka dengan melakukan salat, berdoa atau memakai jilbab, atau memiliki hubungan dengan negara luar seperti Turki.Beijing menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat terkait hal itu.Media pemerintah China mengatakan kesertaan dalam skema perpindahan ini bersifat sukarela.Pejabat menyangkal adanya “kerja paksa” untuk keperluan komersial buruh-buruh dari Xinjiang ini, menurut laporan ASPI.

Di mana mereka bekerja?
ASPI mengatakan telah mengidentifikasi 27 pabrik di sembilan provinsi di China yang menggunakan buruh yang ditransfer dari Xinjiang sejak 2017.Di pabrik-pabrik itu, ASPI menyatakan Muslim Uighur umumnya dipaksa tinggal di asrama terpisah, belajar bahasa Mandarin dan menjalani “pelatihan ideologi” di luar jam kerja.

Baca Juga :Korban Kerusuhan Muslim Di India

Mereka juga diawasi terus menerus dan dilarang menjalankan praktik keagamaan.Menurut ASPI, perusahaan-perusahaan China dan luar negeri “mungkin tanpa sadar” terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.ASPI menyerukan agar mereka melakukan “pemeriksaan segera dan menyeluruh” terkait pelaggaran hak asasi manusia ini di pabrik-pabrik mereka di China.

Surat kabar Washington Post mengunjungi satu pabrik yang disebutkan dalam laporan, yang memproduksi sepatu untuk perusahaan raksasa olah raga Nike.Kata mereka, pabrik itu mirip penjara, dilengkapi pagar berduri, menara pengawas, kamera dan pos polisi.”Kita bisa jalan-jalan di sini, tapi tak bisa kembali ke Xinjiang,” kata seorang perempuan Uighur kepada Washington Post di pintu gerbang pabrik itu di kota Laixi.

Nike mengatakan kepada Washington Post mereka “berkomitmen untuk menegakkan standar internasional ketenagakerjaan” dan pemasok mereka “dilarang menggunakan segala jenis penjara kerja paksa, kerja terikat dan kuli kontrak”.Apple mengatakan mereka “mengambil semua langkah untuk memastikan bahwa semua dalam rantai pasokan mereka diperlakukan dengan hormat dan penghargaan yang selayaknya mereka dapatkan”.

Korban Kerusuhan Muslim Di India Korban Kerusuhan Muslim Di India

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Korban Kerusuhan Muslim Di India. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Korban Kerusuhan Muslim Di India.

Awalnya, seperti jutaan migran miskin lain, ia tinggal di dalam gubuk terpal, di pinggiran ibu kota India yang padat. Ia bekerja di toko penjilidan buku dan pindah ke Khajuri Khas, lingkungan kumuh di timur laut Delhi, tempat dengan tingkat literasi lebih rendah dari rata-rata nasional.

Ketika toko penjilidan buku itu bangkrut, Munazir memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Ia membeli sebuah gerobak, nasi, dan ayam, kemudian mulai berdagang nasi biryani. Bisnisnya sukses. “Saya bagaikan pahlawan, semua orang suka masakan saya,” ujarnya.Setiap hari, ia memasak 15 kilogram biryani dan mendapatkan hingga 900 rupee (sekitar Rp174.000) untuk jerih payahnya. Akhirnya hidup Munazir mulai membaik.Sekitar tiga tahun lalu, Munazir dan saudaranya yang bekerja sebagai supir mengumpulkan 2,4 juta rupee dari tabungan mereka dan membeli sebuah rumah — bangunan dua-lantai sederhana di sebuah jalan sempit.

Di setiap lantai terdapat dua kamar sempit tak berjendela, dapur kecil, dan kamar mandi. Bangunan itu terlalu sesak untuk dua keluarga, tapi bagi Munazir dan kakaknya, ia adalah rumah.Mereka bahkan memasang pendingin ruangan untuk menjaga keluarga mereka tetap nyaman saat musim panas yang lembap di Delhi.”[Rumah] ini adalah sarang yang akhirnya saya bangun untuk istri dan enam anak saya setelah berjuang seumur hidup saya,” kata Munazir. “Ini satu-satunya hal yang inginkan dalam hidup ini, satu-satunya mimpi saya yang menjadi nyata.”

Mimpi itu dilahap api pada Selasa (26/02) pagi pekan lalu.Rumah Munazir dirampok dan dibakar oleh sekelompok pria muda yang mengenakan topeng dan helm. Mereka menyisir lingkungan perumahan tempat Munazir tinggal, bersenjatakan batang kayu, tongkat hoki, batu, dan botol berisi bensin.Mereka melantunkan “Jai Shri Ram”, atau “Kemenangan bagi Dewa Rama”, salam yang telah berubah menjadi slogan maut kelompok radikal Hindu dalam beberapa tahun terakhir.

Khajuri Khas adalah salah satu permukiman kumuh yang dilanda kerusuhan agama paling mematikan di Delhi dalam puluhan tahun, dipicu oleh bentrokan terkait undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial. Tidak terjadi pembunuhan di sini. Tapi tiga hari kerusuhan dan pembakaran akhirnya memakan lebih dari 40 nyawa, meninggalkan ratusan lainnya terluka dan hilang.

Properti senilai jutaan dolar hancur. Dan ada bukti bahwa warga Muslim disasar dengan terencana, dengan banyak contoh yang menunjukkan beberapa polisi membantu perusuh, atau sekadar mengabaikan mereka.

Terdapat sekitar 200 rumah dan toko di jalanan sempit Khajuri Khas, seperlimanya milik warga Muslim. Namun hampir mustahil membedakan bangunan yang dimiliki warga Muslim dengan yang dimiliki warga Hindu. Bangunan-bangunan itu bahkan berbagi tembok dan garis atap.

Tapi pekan lalu, para perusuh menyasar rumah dan toko milik Muslim dengan mudah. Puing-puing rumah warga Muslim yang tertutup jelaga kini berdiri di samping rumah-rumah warga Hindu yang tak tersentuh dan rapi. Toko-toko milik umat Muslim serta pusat pelatihan dan pabrik soda terbakar habis. Sedangkan toko-toko milik umat Hindu sudah mulai dibuka.

Satu-satunya hal masih menjadi milik bersama kedua komunitas adalah jalanan yang penuh dengan sisa-sisa kekerasan: kaca pecah, kendaraan terbakar, robekan buku-buku pelajaran, roti yang menjadi arang. Hanya embik kambing-kambing di antara puing-puing bangunan yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Baca Juga :Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi

“Saya sama sekali tidak tahu apakah para perusuh itu orang dalam atau orang luar. Kami tak bisa melihat wajah mereka. Tapi bagaimana mereka bisa mengenali rumah-rumah kami yang tertutup tanpa bantuan warga lokal?” Munazir bertanya-tanya.Dalam semalam, rasa curiga tumbuh di antara dua komunitas.Di seberang rumah Munazir yang sekarang habis terbakar terdapat bangunan dua-lantai milik seorang tetangga Hindu yang berdagang daun sirih dan tinggal bersama dua anak laki-lakinya, yang bekerja di perusahaan transportasi umum.

Selama bertahun-tahun, kata Munazir, warga hidup bertetangga dengan damai. “Saya bahkan pernah ngekos di rumahnya. Ia bisa saja keluar rumah dan mencoba berunding dengan massa,” kata Munazir. “Mungkin rumah saya bisa diselamatkan.”Pada pagi hari ketika massa mulai memasuki lingkungan perumahan, Munazir serasa dihujam oleh rasa takut tiba-tiba. Ia memanggil polisi dan pemadam kebakaran.

Seorang warga Hindu yang bekerja sebagai guru sekolah berusaha menenangkan pria-pria bersenjata itu dan meminta mereka pergi. “Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa. Pulanglah,” katanya kepada para warga Muslim yang gelisah.Seorang pria muda beragama Hindu berusaha menghentikan massa yang hendak memasuki jalan lain. Namun para perusuh tidak mau mendengar permohonannya, dan tak lama kemudian melonjak ke jalanan. Pada saat itu Munazir berlari ke rumahnya dan kemudian mengunci pintu depan.

Massa berusaha mendobrak pintu rumah Munazir, dan kemudian beralih ke sebuah masjid tak jauh dari sana, melemparkan bom molotov ke bangunan tersebut. Polisi, kata Munazir, datang enam jam kemudian, dan menuntun para warga Muslim ke tempat aman sambil disaksikan para perusuh, yang kadang-kadang menampar dan melempari warga yang mengungsi dengan batu.

Setelah warga mengungsi bersama polisi, para perusuh memasuki rumah mereka, membakar dan merampok seenaknya. “Kamu beruntung masih hidup,” kata seorang polisi kepada Munazir. “Kami akan membawa kamu ke manapun kamu mau.”Ia diminta pergi ke rumah saudaranya di jalan yang dihuni warga mayoritas Muslim tak jauh dari situ.

Ketika ia sampai bersama keluarganya, ia menemukan 70 laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari 11 keluarga setempat telah berlindung di tiga kamar kecil. Di antara mereka ada seorang perempuan muda yang mengikat bayinya yang baru berumur enam hari ke pinggangnya dan melompati tiga atap untuk sampai ke tempat aman. Semua rumah mereka telah hancur.

Polisi membantu membawa beberapa orang ke tempat itu, dan sedikitnya 40 orang lainnya diselamatkan oleh seorang perempuan gagah berani yang merupakan pemilik bangunan.

“Kami masih bertanya-tanya mengapa polisi tidak kembali ke perumahan dan melindungi rumah-rumah kami. Kenapa mereka tidak memanggil bantuan? Apakah disengaja, ataukah mereka tidak punya cukup tenaga?” kata Fayaz Alam, seorang insinyur muda yang merantau ke Delhi untuk mencari pekerjaan.

Itulah mengapa sebagian besar dari 70 ‘pengungsi’ di Khajuri Khas berutang nyawa kepada Mushtari Khatoon, perempuan tua yang mengumpulkan keberanian untuk menyeberang jalan utama, memasuki jalanan yang dilanda kerusuhan, dan mengantarkan perempuan dan anak-anak Muslim ke tempat aman pada pagi-pagi buta.

Ia melewati massa yang mengamuk dan pergi ke lokasi kerusuhan “empat sampai lima kali” untuk membawa mereka sejauh hampir satu kilometer ke rumahnya. Para perempuan dan anak-anak melompat dari atap ke atap sampai mereka menemukan bangunan yang aman untuk keluar.Khatoon akhirnya menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada polisi.”Mulai sekarang kami harus melindungi diri kami sendiri. Delhi tidak akan menyelamatkan kami lagi,” ujarnya. Ada nada menantang, alih-alih putus asa, dalam suaranya.

Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Perempuan Muslim Jadi Korban Di Delhi

Kerusuhan di wilayah timur laut Delhi telah menyebabkan kematian 40 orang dari kelompok Hindu dan Muslim. Bagi ribuan perempuan Muslim dan anak-anak yang kehilangan tempat tinggal, masa depan tampak suram.Di sebuah ruang serba guna di Indira Vihar, ratusan perempuan dan anak-anak yang terusir dari tempat tinggal mereka tengah duduk di atas karpet atau alas. Banyak dari perempuan muda tengah menggendong bayi mereka, tapi ada juga anak kecil, dan anak yang lebih besar tengah bermain.

Ruang serba guna tersebut milik seorang pengusaha Muslim. Tempat itu berubah menjadi pusat pengungsian bagi korban kerusuhan.Perempuan dan anak-anak tersebut melarikan diri dari sekelompok warga Hindu yang menyerang rumah mereka di Shiv Vihar, salah satu area yang paling terdampak dalam kerusuhan ini.Shiv Vihar, area yang didominasi kelompok pekerja beragama Hindu dengan populasi Muslim yang cukup besar, serupa labirin gang sempit yang terletak di dekat selokan yang kotor. Beberapa ratus meter, di jalur selokan yang sama, ada area yang dihuni sebagian besar masyarakat Muslim di Chaman Park dan Indira Vihar.

Ada jalan yang memisahkan area Muslim dan Hindu dan kedua komunitas tersebut hidup berdampingan secara damai selama puluhan tahun. Tapi semua itu telah berubah.Nasreen Ansari, yang meninggalkan tempat tinggalnya di Shiv Vihar, mengatakan kerusuhan itu dimulai Selasa sore, ketika hanya ada kebanyakan perempuan di rumah. Para pria tengah berada di bagian lain di kota Delhi untuk menghadiri pertemuan keagamaan.”Kami melihat sekitar 50-60 pria. Aku tidak tahu siapa mereka, kami tidak pernah melihat mereka sebelumnya,” kata Nasreen. “Mereka mengatakanpada kami mereka datang untuk melindungi mereka dan kami harus tetap tinggal di dalam rumah.”

Sambil menyaksikan para pria tersebut dari balik jendela, mereka langsung tersadar bahwa pria-pria itu tidak bermaksud untuk melindungi mereka.Ia menunjukkan video yang ia ambil dari balik jendela. Video itu menunjukkan beberapa dari pria itu menggunakan pelindung kepala dan membawa tongkat kayu.Nasreen mengatakan para pria itu meneriakkan slogan-slogan Hindu seperti Jai Shri Ram (Sembah Dewa Rama) dan melantunkan pujian seperti Hanuman Chalisa (pujian untuk dewa monyet, Hanuman).Ibunya, Noor Jehan Ansari, mengatakan tetangga Muslim memberitahu bahwa rumahnya telah dibakar massa.

“Dari jendela, kami bisa melihat rumah tetangga Muslim yang lain dan toko obatnya yang mulai dibakar api.”Para penyerang itu, katanya, merusak saklar listrik dan, menjelang Maghrib, area itu menjadi gelap gulita.”Tak lama setelah itu, api menyala di sekeliling kami, dan kami diserbu bom molotov dan tabung gas kecil, yang dilempar ke arah pertokoan dan rumah milik warga Muslim. Rumah warga Hindu aman,” katanya. “Kami tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi pada kami. Kesalahan kami hanyalah karena kami terlahir Muslim.”Nasreen mengatakan perempuan itu mencoba menghubungi polisi. “Setiap kali mereka mengatakan akan tiba dalam lima menit.”Pada titik tertentu, Nasreen mengatakan ia menghubungi anggota keluarga dan mengatakan bahwa mereka “mungkin tidak akan mampu bertahan malam itu”.

Akhirnya, mereka diselamatkan pada pukul 03:00 pagi, 12 jam setelah pengepungan itu dimulai, saat polisi, didampingi oleh pria Muslim dari Chaman Park dan Indira Vihar akhirnya tiba.”Kami lari untuk menyelamatkan nyawa, hanya dengan membawa pakaian. Kami bahkan tidak sempat mengenakan sepatu,” katanya.Beberapa perempuan lainnya di lokasi pengungsian mengisahkan cerita yang sama.Shira Malik, 19, mengatakan ia dan keluarganya berlindung di rumah tetangga. “Kami terjebak. Batu dan bom molotov berdatangan bak hujan.”Banyak perempuan bercerita bahwa banyak dari mereka hampir dilecehkan malam itu. Para penyerang, menurut mereka, menarik hijab dan merobek pakaian mereka.Seorang ibu dari bayi berusia satu tahun menangis saat ia bercerita bagaimana pakaiannya dirobek oleh beberapa pria yang memasuki rumah mereka.Seorang perempuan lain yang berusia 30-an mengatakan satu-satunya alasan ia masih hidup adalah karena ia mendapatkan bantuan dari tetangga Hindu.

Baca Juga :Menag Imbau Umat Muslim Di India

“Tetanggaku mengatakan pada para penyerang itu, ‘Dia adalah keluarga kami. Tidak ada perempuan Muslim di sini.’ Saat kelompok penyerang itu pergi, tetanggaku membantuku kabur,” katanya.Kekerasan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini bermula dari Minggu sore, ketika kekerasan berskala kecil terjadi antara kelompok pendukung dan penolak undang-undang kewarganegaraan yang baru.Dalam beberapa jam, kekerasan tersebut menjalar ke area lain, termasuk Shiv Vihar dan Chaman Park.

Sembari berjalan mengelilingi area tersebut, saya melihat jalan-jalan yang menjadi saksi kekerasan itu. Puluhan polisi anti huru-hara berjaga-jaga untuk mencegah kerusuhan susulan.Batu-batuan yang digunakan untuk melempari bangunan masih bertebaran, sementara banyak kendaraan, rumah dan toko yang hangus terbakar. Di Shiv Vihar terdapat masjid yang juga hangus terbakar.Di pusat pengungsian di Indira Vihar, para pengungsi perempuan mengatakan mereka tidak tahu kapan mereka bisa kembali ke rumah.

Shabana Rehman mengatakan anak-anaknya terus bertanya kapan mereka bisa pulang.”Rumahku habis dibakar para penyerang. Ke mana kami bisa pulang? Bagaimana masa depan anak-anakku? Siapa yang akan mengurus kami? Kami sudah kehilangan semua dokumen,” katanya sambil menangis.Rumah yang telah ia tinggali selama puluhan tahun di Shiv Vihar tak seberapa jauh dari tempat ia mengungsi, tapi jaraknya tampak tidak dapat terjembatani.

Menag Imbau Umat Muslim Di India Menag Imbau Umat Muslim Di India

alagagrh.net Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Menag Imbau Umat Muslim Di India. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Menag Imbau Umat Muslim Di India

Menteri Agama Fachrul Razi mengimbau agar solidaritas umat Islam di Indonesia terhadap nasib Muslim di India mengedepankan diplomasi daripada anarki.”Kedepankan diplomasi dan jangan anarki,” kata Menag dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Minggu (8/3).Dia mengatakan mencegah kemungkaran adalah hal baik. Akan tetapi, kata dia, hal itu harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf atau baik agar tidak memunculkan kemungkaran yang lebih besar.

Muslim Indonesia sendiri telah menyuarakan kepeduliannya terhadap nasib umat Islam di India. Aspirasi itu telah disampaikan dalam banyak cara, mulai dari doa bersama, kecaman hingga unjuk rasa.Sejalan dengan itu, Menag minta agar umat Islam Indonesia tidak terprovokasi melakukan tindakan anarki dalam beragam bentuknya, termasuk sweeping.

“Ingat, anarkisme bukanlah nilai-nilai Indonesia dan juga bukan nilai-nilai Islam. Demikian juga aksi sepihak dalam bentuk sweeping. Masyarakat Indonesia dikenal dunia sebagai umat yang toleran, rukun dan cinta damai. Mari kedepankan jalur hukum dan komunikasi diplomatik agar ini bisa diselesaikan dengan baik,” katanya.

Aspirasi yang disuarakan Muslim Indonesia, kata dia, terus dikomunikasikan pemerintah melalui jalur diplomasi.Dia mengatakan komunikasi dilakukan dengan pihak kedutaan India di Indonesia maupun dengan pemerintah di India. Kontak terus dilakukan Indonesia untuk mencari solusi terbaik atas kehidupan beragama tanpa mencampuri urusan dalam negeri India.Menag mengapresiasi kepedulian dan perhatian Muslim Indonesia kepada umat Islam di India.

“Saya sangat mengapresiasi atas rasa keprihatinan dan kepedulian yang telah ditunjukkan. Kekerasan oknum, apalagi dengan mengatasnamakan agama tidak bisa dibenarkan, kapanpun dan di manapun,” katanya.Fachrul mengatakan tidak ada ajaran agama manapun yang membenarkan tindakan kekerasan, apapun motifnya. Memuliakan nilai kemanusiaan adalah esensi ajaran semua agama.

Menag meyakini, tindakan kekerasan oleh sekelompok umat Hindu di India tidak menggambarkan ajaran agama Hindu sendiri, melainkan akibat pemahaman ekstrem sebagian umat atas ajaran agamanya.Fachrul berharap para tokoh agama mengambil peran dalam mengarahkan umat dalam menyikapi persoalan ini sesuai nilai kedamaian, toleransi dan keadilan hukum.”Kita doakan para koran dan kita berharap kehidupan beragama di India kembali kondusif,” katanya.

Baca Juga :Liga Arab Tolak Rencana AS

Salah seorang orator dalam demonstrasi yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI), GNPF Ulama, dan Persaudaraan Alumni (PA) 212 di depan Kantor Kedutaan Besar India,Jalan HR Rasuna Said,Kuningan,Jakarta Selatan mengajak massa memboikot film India alias ‘bollywood’.Ajakan itu diserukan jika tidak ada niat baik dari Kedubes India dalam menyikapi sejumlah tuntutan mereka. Aksi ini dilakukan merespons bentrok umat Hindu dengan Islam di India. Salah satu tuntutan massa FPI cs adalah meminta pemerintah India menghentikan kekerasan terhadap umat Muslim.

Selain boikot film bollywood, ia juga mengajak massa memboikot berbagai produk buatan India di Indonesia.”Mulai hari ini jangan nonton film India. Kita boikot semua,” ujar orator dalam demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor Kedubes India, Jumat (6/3).Orator itu pun menuturkan orang India telah mengambil duit orang Islam dengan menjual film India. Ia memerintahkan peserta aksi yang memiliki kepingan compact disc (cd) film Bollywood untuk membawanya di aksi berikutnya buat dibakar secara bersama-sama.

“Yang punya VCD atau CD film India kalau ada aksi berikutnya dibawa kita bakar sama-sama,” ujarnya.Aksi demonstrasi tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Aksi itu membuat pihak kepolisian menutup akses Jalan HR Rasuna Said dari arah Mampang Prapatan menuju Menteng. Kendaraan roda dua maupun empat diarahkan menuju Jalan Denpasar Selatan.Di sela demo, Ketua PA 212, Slamet Maarif, bersama sejumlah perwakilan massa sempat bertemu dengan salah seorang staf Dubes India dan menyampaikan poin-poin yang menjadi tuntutan dalam aksi unjuk rasanya.